Studi Persampahan Karst Aceh di Nagan Raya

December 1st, 2009  |  Published in Anchor

Karst Aceh bekerja sama dengan UNDP-MDF dan Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Nagan Raya melakukan  Studi Waste Management di Nagan Raya

Karst Aceh bekerja sama dengan UNDP-MDF dan Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Nagan Raya melakukan  Studi Waste Management di Nagan Raya. Kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Departemen Environmental Health. Beberapa waktu yang lalu website ini telah menghadirkan sebuah artikel Semen Dari Sampah (see entrance page) yang mendapat sambutan hangat dari beberapa pihak. Ini merupakan jawaban Karst Aceh mengapa beberapa kerja sama yang dilakukan seperti dengan ESP-USAID dan terakhir dengan UNDP-MDFdengan fokusnya adalah masalah sampah. Pada intinya, Karst Aceh tetap komit untuk menyelamatkan  kawasan karst, dan salah satunya mewujudkan pembuatan semen yang kita harapkan tidak lagi menggunakan sumber daya karst.

Berikut merupakan ringkasan/ summary dari kegiatan tersebut.

Studi Pengumpulan Data Dasar Kegiatan Persampahan dan Apresiasi Masyarakat Terhadap Program Pengelolaan Sampah Serta Mekanisme Pengutipan Biaya Retribusi Sampah Di Kabupaten Nagan Raya

Summary

Perkembangan waktu dan pertambahan penduduk berhubungan erat dengan jumlah timbulan sampah dan ketersediaan lahan yang ada. Ini membutuhkan kinerja sistem pengelolaan sampah yang berorientasi pada nilai-nilai estetika lingkungan, perlindungan kesehatan masyarakat, perlindungan pencemaran lingkungan, pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan masyarakat, serta peningkatan nilai sosial budaya masyarakat. Tujuan mendeskripsikan profil dan dinamika manajemen persampahan pada 37 Desa di Kabupaten Nagan Raya saat ini dan di tahun 2014. Materi dan Metode: studi korelatif dengan menggunakan kuisioner, observasi, dan survey GPS. Analisis menggunakan Microsoft Excel dan ArcGIS. Hasil: Desa Ujong Fatihah menempati jumlah penduduk yang paling banyak di tahun 2014 dan Desa Kabu Baroh Kecamatan Seunagan Timur menempati jumlah penduduk yang paling sedikit. Desa terpadat di tahun 2014 adalah Desa Jeuram (5620 jiwa per km2) dan yang tidak terpadat adalah Desa Blang Seumot 1 jiwa per km2. Desa Keude Seumot Kecamatan Beutong di tahun 2014 dapat mengalami peningkatan kepadatan penduduk sebesar 219%. Fasilitas persampahan yang paling sering digunakan di wilayah studi adalah tong sampah (89.91%) dan masyarakat (45.68%) familiar dan menyenangi pelayanan sampah dengan sistem door to door (dari pintu ke pintu). Rata-rata jarak terdekat ke fasilitas sampah adalah 51 m dan yang terjauh adalah 2.7 km. Profil sampah di wilayah studi adalah 59 % sampah organik, 16 % kertas, 1 % kaleng, dan 23% plastik. Persentase ini dapat dijadikan acuan untuk program pengelolaan sampah di Nagan Raya di masa yang akan datang. Desa Blang Panyang paling banyak menghasilkan jenis sampah organik. Desa Kabu Baroh paling banyak menghasilkan jenis sampah kertas, Jenis sampah kaleng paling banyak dihasilkan oleh Desa Kabu Blang Sapek, sampah besi dan gelas oleh Desa Kuta Baro Jeuram, serta jenis plastik oleh Desa Ujong Fatihah. Peristiwa yang biasa menimbulkan sampah secara signifikan, yaitu peringatan hari besar agama. Sebanyak 67.57 % masyarakat di wilayah studi mengatakan bahwa kurangnya fasilitas sampah merupakan hambatan utama dalam penanganan sampah di wilayah studi. Jumlah timbulan sampah pada area yang sedang dilayani adalah 24550 jiwa dan estimasi populasi komersial sebesar 1776 jiwa dengan jumlah timbulan sampah per harinya adalah 61465 liter atau 61 m3. Persentase pelayanan terhadap 999 populasi yang aktual terlayani di wilayah studi (serviced coverage) sebesar 4% dengan nilai serviced coverage dari yang terbesar hingga terendah masing-masing adalah Rute 5 (72%), Rute 7 (37%), Rute 6 (35%),Rute 4 (9%),  Rute 3 (8%), Rute 2 (5%), dan Rute 1 (1%). Terhadap 999 populasi dan total sampah sebesar 27 m3 per harinya dibutuhkan 999 tong sampah individual, 6 tong sampah komunal, 8 gerobak, 1 truk sampah, 1 amroll, 1 depot transfer, dan 12 pekerja dengan total anggaran 1.7 milyar. Untuk pengembangan di tahun 2014, total estimasi sampah yang muncul yaitu 93 m3 per hari dengan populasi sebesar 36963 jiwa di 37 wilayah studi membutuhkan dana 7 milyar. Sistem HCS yang digunakan KLHK Nagan Raya yang terlama adalah Rute 2 (jarak tempuh 41 km) yaitu 3.83 Jam/ ritasi dan yang tercepat adalah Rute 6 (jarak tempuh 43 km) yaitu 2.02 jam/ ritasi. Jarak tempuh yang terjauh adalah rute 5 dengan area pelayanan adalah Simpang Cut Man-Aiga Motor- Seputaran Pasar Simpang Peut. Karakter masyarakat di wilayah studi 57.03% adalah Petani, 16.13% pedagang, 14.05% Tenaga Kerja Harian, dan 12.79% Pegawai Negeri Sipil. Tingkat pendapatan rata-rata masyarakat di wilayah studi adalah Rp. 639.099,- Pendapatan per bulan yang paling sedikit terdapat di Desa Pante Ara dan yang tertinggi pada Desa Purwodadi. Dari 37 desa wilayah studi, analisis data menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah studi tidak memiliki uang tambahan penghasilan. Sebesar 48% wilayah studi sadar kesehatan, 42 % sadar lingkungan, 6% sadar potensi ekonomi sampah, dan hanya 4% yang sadar hukum. Desa Jeuram menunjukkan apresiasi yang tinggi pada perannya dengan membayar retribusi secara rutin. Sebesar 74.97% masyarakat menginginkan membayar retribusi sampah pada kisaran untuk rumah tangga sebesar Rp. 2000,- Toko atau warung sebesar Rp. 4000, dan untuk perkantoran sebesar Rp 6000,-. Dibutuhkan studi lebih lanjut untuk mencari pendekatan yang tepat untuk sosialisasi qanun yang mengatur retribusi sampah di wilayah studi Nagan Raya. Tingkat penggunaan tempat sampah atau cara lain dalam membuang sampah yang menunjukkan persentase yang tinggi terdapat pada Desa Blang Seumot dan Kulu (83%). Tingkat kemampuan masyarakat memisahkan sampah organik dan nonorganik di asal sampah menunjukkan persentase yang rendah, yaitu sebesar 12%. Tingkat keterlibatan organisasi masyarakat menunjukkan persentase keaktifan yang rendah, yaitu sebesar 26.22%.

Kata kunci: Sampah, Nagan Raya, proyeksi penduduk, kepadatan penduduk, rute, HCS, retribusi


Comments are closed.