<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>karstaceh.com &#187; Entrance</title>
	<atom:link href="http://karstaceh.com/category/entrance/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://karstaceh.com</link>
	<description>K a r s t - A c e h</description>
	<lastBuildDate>Thu, 19 Jan 2012 13:54:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>MENGKOORDINASIKAN PROGRAM PADA FORUM PENGURANGAN RISIKO BENCANA</title>
		<link>http://karstaceh.com/entrance/koordinasi-program-forum-pengurangan-risiko-bencana</link>
		<comments>http://karstaceh.com/entrance/koordinasi-program-forum-pengurangan-risiko-bencana#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Nov 2011 13:34:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrance]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karstaceh.com/?p=969</guid>
		<description><![CDATA[Makalah Untuk Peningkatan kapasitas Forum PRB Aceh KOORDINASI PROGRAM FORUM PENGURANGAN RISIKO BENCANA oleh: abdillah imron nasution PENDAHULUAN Dalam rangka memfasilitasi kesepakatan bersama untuk mewujudkan upaya pengurangan resiko bencana yang tepat, terkoordinasi dan berkelanjutan, Pemerintah Aceh  melalui Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) yang juga didukung melalui UNDP telah membentuk Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Aceh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<address>Makalah Untuk Peningkatan kapasitas Forum PRB Aceh<strong><span id="more-969"></span></strong></address>
<p><strong>KOORDINASI PROGRAM FORUM PENGURANGAN RISIKO BENCANA</strong><br />
<strong>oleh: abdillah imron nasution</strong></p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p>Dalam rangka memfasilitasi kesepakatan bersama untuk mewujudkan upaya pengurangan resiko bencana yang tepat, terkoordinasi dan berkelanjutan, Pemerintah Aceh  melalui Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) yang juga didukung melalui UNDP telah membentuk Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Aceh melalui Kongres I PRB pada 25 Nov 2011 yang melibatkan para pihak yang terlibat dalam upaya pengurangan risiko bencana.  Forum PRB Aceh tersebut telah mempunyai susunan Pengurus yang telah diformalisasi melalui SK Gubernur Aceh No. 360/60/2011 yang berorientasi untuk membantu pemerintah dalam memfasilitasi koordinasi dan proses pengambilan keputusan di antara pemangku kepentingan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Implementasi-implementasi dalam bentuk program maupun kegiatan dilakukan secara terpadu, menyeluruh dan berkesinambungan membutuhkan dukungan kelembagaan yang kuat dan bertanggungjawab serta berakar dari masyarakat. Dukungan kelembagaan yang kuat, baru dapat terwujud bila keterwakilan dan peran serta masyarakat diakomodasi dalam pembentukan lembaga tersebut. Tiga komponen penting dalam kerangka kerja Pengurangan Risiko Bencana adalah pemerintah, swasta, dan masyarakat. Guna mengemban tugas tersebut maka haruslah dilakukan oleh lembaga dan organisasi yang kuat dari aspek manajerial dan sumberdaya. Sehubungan dengan hal itu Forum PRB di tingkat Provinsi Aceh akan membuat mekanisme koordinasi untuk meningkatkan kinerjanya dengan berbagai pemangku kepentingan untuk keberlanjutan dan kesuksesan aktivitas PRB. Karst Aceh mencoba untuk berbagi pengalaman dalam memfasilitasi pembentukan forum PRB di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang telah terbentuk dan menjalankan rencana aksi komunitas yang didapatkan dari sebuah perencanaan yang partisipatif sebagai rencana kerja selama tiga tahun.</p>
<p><strong>FORUM PENGURANGAN RISIKO BENCANA DI KABUPATEN ACEH TENGAH DAN KABUPATEN BENER MERIAH</strong><br />
<strong></strong></p>
<p><strong>Dasar Pembentukan</strong></p>
<p>Berdasarkan definisinya, forum adalah organisasi atau wadah sekumpulan pemangku kepentingan untuk mencapai tujuan bersama dan menyelesaikan persoalan, berpegang dan berpedoman pada prinsip-prinsip, peraturan serta kerjasama yang disepakati elemen yang menjadi anggota forum. Forum Pengurangan Risiko Bencana yang dibentuk adalah wadah yang menyatukan elemen-elemen pemangku kepentingan yang bergerak dalam mendukung upaya-upaya pengurangan risiko bencana di wilayah Aceh Tengah dan Bener Meriah.</p>
<p>Upaya-upaya pengurangan risiko bencana di kedua wilayah kerja Karst Aceh sebagaimana yang diamanatkan oleh UNDP telah terangkum dalam Rencana Penanggulangan Bencana (RPB). Untuk selanjutnya RPB yang telah disusun tersebut membutuhkan implementasi sebagai wujud nyata. Implementasi ini, secara terpadu terakomodir sebagai Rencana Aksi Komunitas yang membutuhkan dukungan kelembagaan yang kuat dan bertanggungjawab serta berakar dari masyarakat. Untuk itu dibuatlah sebuah wadah yang memiliki kerangka konseptual pengurangan risiko bencana yang terdiri dari elemen-elemen yang dipandang mempunyai kemungkinan untuk mengurangi kerentanan dan risiko bencana di seluruh masyarakat serta meminimalkan dampak merugikan yang ditimbulkan bahaya spesifik daerah tersebut.</p>
<p style="text-align: left;">Rencana Aksi Komunitas disusun dengan membuat aksi berdasarkan kontrol terhadap aset yang dibutuhkan dalam mengisi gap (kesenjangan) yang ada dalam kapasitas masyarakat. Jadi, penyusunan Rencana Aksi Komunitas (RAK) secara otomatis merupakan rencana kerja forum.</p>
<p style="text-align: left;"><a href="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2011/11/rak1.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-970" title="rak1" src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2011/11/rak1-300x227.jpg" alt="" width="300" height="227" /></a></p>
<p style="text-align: left;">Kenyataan bahwa dukungan kelembagaan yang kuat hanya dapat terwujud bila keterwakilan dan peran serta para pihak diakomodir dalam pembentukan lembaga tersebut. Aksi-aksi yang diperlukan menjadi sebuah rencana kerja yang terintegrasi dan melalui proses partisipatif untuk dimiliki oleh semua pihak.  Rencana Aksi Komunitas yang telah disusun di dua forum ini dirumuskan lagi ke dalam aktualisasi rencana kerja (<em>workplan</em>) dan rencana biaya (<em>budget plan</em>).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>KOORDINASI PROGRAM</strong></p>
<p>Koordinasi adalah hubungan yang terjadi antara bagian atau individu dalam forum maupun antara forum dengan pihak luar forum sebagai akibat penyelenggaraan tugas dan fungsi masing-masing dalam mencapai tujuan. Dengan kata lain, koordinasi adalah salah satu bentuk hubungan kerja yang memiliki karakteristik khusus. Karakteristik itu adalah integrasi, sinkronisasi, dan keharmonisan.</p>
<p>Koordinasi dipandang penting agar forum dapat menciptakan efektifitas dan efisiensi dalam mewujudkan tujuannya. Sementara kerja sama yang akan teraktualkan dari koordinasi yang baik akan menciptakan kemudahan serta kelancaran pelaksanaan tugas karena adanya kesadaran bahwa setiap orang atau organisasi anggota forum perlu untuk mengembangkan semangat saling membantu. Sarana koordinasi yang telah Karst Aceh fasilitasi untuk forum di Aceh Tengah dan Bener Meriah ini dilakukan melalui kebijakan dan tata kelola.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Istilah tata kelola yang baik adalah ketika mekanisme yang ada didasarkan pada prinsip-prinsip transparansi, partisipasi, akuntabilitas, integritas, tanggap, efektifitas dan efisiensi, adil dan tunduk pada supremasi hukum. Tata kelola ini menggambarkan aturan main bagaimana di dalamnya dikelola. Bila prinsip-prinsip ini dikembangkan maka dapat diharapkan bahwa  koordinasi akan berlangsung secara efektif dan harmonis. Efektif berarti koordinasi program akan dilakukan menurut mekanisme dan prosedur yang tepat sesuai aturan, sedangkan secara harmonis dipahami sebagai terciptanya keselarasan hubungan dan kepentingan antar berbagai pihak di dalamnya. Di samping itu tata kelola koordinasi program yang baik menjamin kepercayaan dan berkurangnya praktek dugaan korupsi, didengarkannya pandangan kelompok minoritas dan diakomodirnya kepentingan kelompok yang paling rentan dalam pengambilan keputusan. Kebijakan yang pernah dibuat untuk mendukung koordinasi program forum di Aceh Tengah dan Bener Meriah antara lain: Anggaran Dasar/ Anggaran Rumah Tangga, Peraturan, Pakta Integritas, Piagam Komitmen, Perjanjian Kerja Sama/ Kemitraan, dan Surat Keputusan. Sedangkan tata kelola yang dibuat antara lain mengenai keuangan (<em>financial</em>), pengadaan (<em>procurement</em>) dan administrasi umum.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>KEMITRAAN SEBAGAI BAGIAN KOORDINASI PROGRAM</strong></p>
<p>Hubungan kerjasama dengan mitra kerja yang beragam, termasuk pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta dan masyarakat donor internasional diatur dengan sistim kemitraan. Sistim ini secara aktual akan diatur dalam kebijakan dan tata kelola forum yang ditetapkan melalui Musyawarah Besar yang merupakan pengambilan keputusan tertinggi di forum. Penekanan yang diarahkan dalam pengaturan tata kelola ini adalah kegiatan-kegiatan kemitraan harus diaudit oleh pihak independen eksternal yang ditunjuk oleh majelis umum dan kemitraan memiliki unit monitoring dan evaluasi (M&amp;E) yang harus dilibatkan mulai dari tahap awal perumusan. Prinsip M&amp;E diterapkan secara internal maupun eksternal; secara internal untuk menjamin bahwa sumber daya forum telah menerapkan perencanaan yang akuntabel bagi pencapaian target dan secara eksternal untuk memastikan bahwa pihak ketiga telah secara menyeluruh memahami mengenai persyaratan dan parameter M&amp;E untuk menjamin bahwa upaya-upaya dilakukan dengan ketaatan penuh pada kaidah-kaidah dan standar yang berlaku.<em></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong></p>
<ol>
<li>Koordinasi program merupakan indikator penting dalam menciptakan efektifitas dan efisiensi forum pengurangan risiko bencana dalam mewujudkan tujuannya.</li>
<li>Berdasarkan prinsip-prinsipnya, koordinasi dapat dilaksanakan secara efektif yaitu mekanisme dan prosedur yang tepat sesuai aturan dan secara harmonis yaitu keselarasan hubungan dan kepentingan antar berbagai pihak di dalam forum.</li>
<li>Sarana koordinasi forum komunitas pengurangan risiko bencana di Aceh Tengah dan Bener Meriah melalui kebijakan dan tata kelola.</li>
<li>Hubungan kerjasama dengan mitra yang beragam diatur dengan sistim kemitraan yang ditetapkan dengan pengambilan keputusan tertinggi dan menekankan pada proses audit eksternal dan monitoring dan evaluasi yang dilakukan dengan ketaatan penuh pada kaidah-kaidah dan standar yang berlaku</li>
</ol>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://karstaceh.com/entrance/koordinasi-program-forum-pengurangan-risiko-bencana' addthis:title='MENGKOORDINASIKAN PROGRAM PADA FORUM PENGURANGAN RISIKO BENCANA '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karstaceh.com/entrance/koordinasi-program-forum-pengurangan-risiko-bencana/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rencana Kontinjensi Dalam Islam</title>
		<link>http://karstaceh.com/entrance/rencana-kontinjensi-dalam-islam</link>
		<comments>http://karstaceh.com/entrance/rencana-kontinjensi-dalam-islam#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 13:00:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrance]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karstaceh.com/?p=892</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abdillah Imron Nasution Mempersiapkan diri untuk meminimalkan resiko jiwa dan harta &#160; Ditinjau dari faktor daerah yang berdekatan dengan Gunung api Burni Telong, Kabupaten Bener Meriah memberikan keuntungan daerah. Keuntungan yang ada antara lain menjadi daerah penangkap hujan, menyuburkan tanah, memperbanyak jenis tanaman budi daya, menjadi tempat wisata, serta menjadi daerah pertambangan. Namun, di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Abdillah Imron Nasution</p>
<p>Mempersiapkan diri untuk meminimalkan resiko jiwa dan harta<span id="more-892"></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ditinjau dari faktor daerah yang berdekatan dengan Gunung api Burni Telong, Kabupaten Bener Meriah memberikan keuntungan daerah. Keuntungan yang ada antara lain menjadi daerah penangkap hujan, menyuburkan tanah, memperbanyak jenis tanaman budi daya, menjadi tempat wisata, serta menjadi daerah pertambangan. Namun, di sisi lain, kawasan gunung api juga dapat menimbulkan masalah yang terkait dengan bencana alam yang bisa menimbulkan risiko kepada kita.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Bur Ni Telong pernah meningkat kegiatannya atau meletus sebanyak lima kali, yaitu pada akhir September 1837, pada tanggal 12-13 Januari 1839, pada 14 April 1856, pada Bulan Desember 1919, dan terakhir kali pada tanggal 7 Desember 1924. Dalam penelitian yang dituliskan, dua kejadian letusan yang memberikan dampak paling parah yaitu di tahun 1837 dan pada tahun 1839, dinyatakan bahwa abu letusan Burni Telong sampai mencapai P. Weh</p>
<p>Lamanya jarak antar waktu meletusnya dengan saat ini merupakan ancaman yang harus kita waspadai. Masyarakat harus lebih memahami G. Burni Telong dengan kesiapsiagaan kita sebagai orang beriman yang hidup berdampingan dengan gunung api yang masih aktif ini. Kita perlu mempersiapkan diri untuk meminimalkan resiko yang ada baik terhadap anak-anak, wanita hamil, orang yang telah berusia lanjut , maupun penderita cacat fisik.</p>
<p>Allah berfirman di dalam Surah Ali ‘Imran ayat 200</p>
<p><a href="../wp-content/uploads/2011/09/Slide2.jpg"><img title="Slide2" src="../wp-content/uploads/2011/09/Slide2-300x63.jpg" alt="" width="370" height="77" /></a></p>
<p><strong><em>Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung[3.200]</em></strong></p>
<p>Dalam ayat yang lain, Allah SWT berfirman dalam Surah Al An’aam ayat 131:</p>
<p><a href="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2011/09/Slide31.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-896" title="Slide3" src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2011/09/Slide31-300x54.jpg" alt="" width="340" height="61" /></a></p>
<p><strong><em>Yang demikian itu adalah karena Tuhanmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedang penduduknya dalam keadaan lengah. [6.131]</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di sini, Allah menegaskan bahwasanya kita jika mengaku sebagai orang yang beriman untuk siap siaga sebelum akan terjadinya suatu yang membahayakan. Kesiapsiagaan ini membutuhkan perencanaan. Jadi perencanaan siaga dapat diartikan sebagai proses perencanaan ke depan, dimana rencana dan tujuan telah ditentukan, dan sistim untuk menanggapi kejadian disusun agar dapat mencegah dan mengatasi secara lebih baik keadaan atau situasi darurat yang dihadapi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beberapa desa yang terdapat di kawasan rawan bencana gunung api Burni Telong di antaranya adalah Bale Atu, Pante Raya, Simpang Tiga Redelong, Simpang Balik, Bandar Lampahan, dan Lampahan. Dengan kondisi wilayah seperti yang telah diuraikan di atas, Desa Pante Raya Kabupaten Bener Meriah dapat disebut sebagai wilayah rawan bencana II, yaitu suatu kawasan berpotensi terlanda aliran hawa panas, lava dan lahar, radius 5 km-nya berpotensi terlanda hujan abu lebat, dan lontaran batu. Kawasan rawan bencana ini juga termasuk ke dalamnya pusat pemerintahan, bandar udara, serta pihak-pihak keamanan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Peringatan yang diberikan oleh Allah SWT ini termaktub di dalam Al Qur’an, dalam Surah Asy Syu’ara’ ayat 26:</p>
<p><strong><em><a href="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2011/09/Slide4.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-897" title="Slide4" src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2011/09/Slide4-300x54.jpg" alt="" width="320" height="57" /></a></em></strong></p>
<p><strong><em>“Dan Kami tidak membinasakan sesuatu negeri pun, melainkan sesudah ada baginya orang-orang yang memberi peringatan” [26.208]</em></strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beberapa peringatan yang diberikan telah kita lihat, saksikan, dan dengar. Seperti letusan Gn Merapi di Yogyakarta, letusan Gn. Bromo, Gn.Anak Krakatau, maupun Sinabung yang terletak di Sumatera Utara. Produk gunungapi yang dikeluarkan dapat membahayakan jiwa, harta, dan tatanan sosial yang ada. Awan panas menurut para ahli vulkanologi yang keluar dari gunung api atau dari lava yang mengalir. Suhunya mencapai sekitar 100-700 derajat celicius. Banjir lava yang akan mengalir dari puncak gunung dapat mencapai 600-1200 derajat celcius, apa saja yang dilaluinya menjadi hancur dan meleleh. Sementara itu banjir lahar dikategorikan pada dua bentuk, yaitu lahar panas dan lahar dingin. Lahar panas adalah aliran air panas bercampur lumpur yang dimuntahkan dari gunungapi. Lahar dingin, berupa aliran air dingin bercampur lumpur yang terjadi karena air hujan lebat di sekitar puncak setelah terjadi letusan. Lahar dingin dapat merusak tanah pertanian, perkebunan, perikanan, dan peternakan serta permukiman penduduk. Ancaman lain juga termasuk batu-batu dengan berbagai ukuran yang banyak bertebaran di sekitar kampung kita. Dari yang berukuran sebesar rumah maupun sebesar genggaman anak kita di rumah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Agar dampak bencana dapat dikurangi, kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan kita. Inti dari kesiapsiagaan ini lebih kepada suatu kesiapan dan kemampuan kita untuk melihat gejala-gejala peningkatan aktivitas gunungapi, mengurangi dampak letusan, menangani secara efektif ketika telah terjadi letusan, serta melakukan pemulihan diri dari dampak yang dirasakan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Seperti firman Allah SWT dalam Surah Al Anfaal ayat 2</p>
<p><a href="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2011/09/Slide5.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-898" title="Slide5" src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2011/09/Slide5-300x77.jpg" alt="" width="356" height="91" /></a></p>
<p><strong><em>Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, [8.2]</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Dengan uraian dan penjelasan d iatas, dapat kita resapi bahwa, orang-orang yang beriman, tidak akan mengacuhkan diri pada ayat-ayat Allah dan kita diminta berusaha untuk mempersiapkan diri dan siaga dalam menghadapi sesuatu termasuk bencana yang mengancam di daerah kita. Mudah-mudahan bermanfaat dan berguna kepada kita sekalian, amin.</p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://karstaceh.com/entrance/rencana-kontinjensi-dalam-islam' addthis:title='Rencana Kontinjensi Dalam Islam '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karstaceh.com/entrance/rencana-kontinjensi-dalam-islam/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lagi-lagi terkait CSR di Lhok Nga</title>
		<link>http://karstaceh.com/entrance/lagi-lagi-terkait-csr-di-lhok-nga</link>
		<comments>http://karstaceh.com/entrance/lagi-lagi-terkait-csr-di-lhok-nga#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Aug 2011 09:28:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrance]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karstaceh.com/?p=877</guid>
		<description><![CDATA[Perlu dilakukan monitoring  untuk mengetahui efektivitas kegiatan dan permasalahan yang timbul &#160; oleh: Abdillah Imron Nasution Anggaran 3 miliar per tahun untuk program pengembangan masyarakat di kecamatan Lhok Nga dan Leupung dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR) sampai saat ini belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Perlu dilakukan monitoring yang dimaksudkan untuk mengetahui efektivitas kegiatan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perlu dilakukan monitoring  untuk mengetahui efektivitas kegiatan dan permasalahan yang timbul<span id="more-877"></span></p>
<p><a href="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2011/08/Graphic1a1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-879" title="Graphic1a" src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2011/08/Graphic1a1-222x300.jpg" alt="" width="232" height="319" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>oleh: Abdillah Imron Nasution</p>
<p>Anggaran 3 miliar per tahun untuk program pengembangan masyarakat di kecamatan Lhok Nga dan Leupung dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR) sampai saat ini belum menunjukkan perkembangan yang berarti. Perlu dilakukan monitoring yang dimaksudkan untuk mengetahui efektivitas kegiatan dan permasalahan yang timbul dalam implementasi kegiatan.  Monitoring dilakukan dengan melibatkan seluruh pihak yang ada. Setelah monitoring dilaksanakan, selanjutnya dilakukan evaluasi bersama secara terpadu dengan melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan. Melalui evaluasi ini akan diketahui kelemahan dan kelebihan dari perencanaan yang ada guna perbaikan untuk pelaksanaan tahap berikutnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam monitoring dan evaluasi ini adalah:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Mengubah sikap mental</strong></p>
<p>Bisa dilakukan dengan cara mengkonsolidasikan nilai-nilai positif seperti perencanaan hidup, optimisme, perubahan kebiasaan hidup, peningkatan produktivitas kerja, perubahan perilaku konsumtif, dan sebagainya. Sehingga tercipta upaya menciptakan masyarakat atau komite yang profesional di bidangnya, misalnya dengan pemberian pengetahuan, <em>skill</em>, dan penanaman nilai-nilai moral (etika).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Revitalisasi Kapasitas dalam kegiatan pemberdayaan</strong></p>
<p>Memperkuat sikap saling percaya dan bisa dipercaya baik dalam bentuk relasi vertikal maupun relasi horizontal di antara pelaku maupun kepercayaan antara pihak Komite Masyarakat selaku agen pembangunan dengan masyarakat. Hal penting menyangkut revitalisasi ini adalah control terhadap asset-aset sumber daya individu, sumber daya sosial, sumber daya ekonomi, sumber daya alam, dan sumber daya infrastruktur. Fungsi revitalisasi tersebut harus benar-benar diberdayakan sebagai wadah yang mengakomodasi dan mengartikulasi kepentingan masyarakat. Kapasitas-kapasitas yang ada harus mampu berperan sebagai intermediasi antara kepentingan masyarakat dengan pihak-pihak eksternal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Pemberdayaan secara berkelanjutan</strong></p>
<p>CSR tidak cukup dilakukan hanya dengan anggapan CSR adalah sebuah bentuk ‘proyek’, memerlukan waktu yang lama untuk masyarakat benar-benar madiri dan berdaya. Tidak kalah pentingnya adalah keterpaduan antar kapasitas mutlak diperlukan dalam rangka mendukung pembangunan masyarakat Lhok Nga dan Leupung. Jangan sampai masing-masing pihak cenderung membuat kebijakan sendiri-sendiri, sehingga perlu ada kesatuan langkah yang dapat menghasilkan sinergi dalam memanfaatkan potensi yang ada untuk membangun program CSR yang sifatnya berkelanjutan. Untuk itu yang paling sederhana adalah membuang jauh-jauh anggapan bahwa Program CSR yang dilakukan bersifat karikatif (bantuan/ donasi).</p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://karstaceh.com/entrance/lagi-lagi-terkait-csr-di-lhok-nga' addthis:title='Lagi-lagi terkait CSR di Lhok Nga '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karstaceh.com/entrance/lagi-lagi-terkait-csr-di-lhok-nga/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Terkait CSR di Lhoknga</title>
		<link>http://karstaceh.com/entrance/terkait-csr-di-lhoknga</link>
		<comments>http://karstaceh.com/entrance/terkait-csr-di-lhoknga#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Dec 2010 07:59:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrance]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karstaceh.com/?p=746</guid>
		<description><![CDATA[CSR dan tanggung jawab komunitas oleh: abdillah i nasution Konflik panjang antara PT Semen Andalas Indonesia (SAI-sekarang bernama Lafarge Cement Indonesia/ LCI) dengan masyarakat Kecamatan Lhoknga dan Leupung, Aceh Besar, akhirnya menghasilkan kesepakatan bahwa perusahaan semen ini menganggarkan Rp 3 miliar per tahun untuk program pengembangan masyarakat di dua kecamatan tersebut. Kesepakatan yang dituangkan dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>CSR dan tanggung jawab komunitas</p>
<p>oleh: abdillah i nasution</p>
<p><span id="more-746"></span></p>
<p>Konflik panjang antara PT Semen Andalas Indonesia (SAI-sekarang bernama Lafarge Cement Indonesia/ LCI) dengan masyarakat Kecamatan Lhoknga dan Leupung, Aceh Besar, akhirnya menghasilkan kesepakatan bahwa perusahaan semen ini menganggarkan Rp 3 miliar per tahun untuk program pengembangan masyarakat di dua kecamatan tersebut. Kesepakatan yang dituangkan dalam MoU yang ditandatangani Presiden Direktur PT SAI Marc Jarrault dan sejumlah mukim di Kecamatan Lhoknga, serta disaksikan Wakil Bupati Aceh Besar Anwar Ahmad dan Asisten II Setdaprov Aceh T Said Mustafa, dan sejumlah warga setempat di Pabrik PT SAI, Lhoknga Tanggal 12 November 2008. Ini merupakan hasil jerih aksi tuntutan oleh masyarakat Lhoknga dan Leupung di akhir tahun 2007. Dasar perjuangan masyarakat yang berhimpun di dalam Komite Masyarakat Bersatu Lhok Nga-Leupung ini adalah seharusnya perusahaan mempunyai kepedulian sosial terhadap keberadaan dan pemberdayaan masyarakat setempat yang bertujuan perusahaan berperan aktif dalam menyukseskan pembangunan daerah.</p>
<p>Pembangunan suatu daerah, bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah  saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab bersama. Setiap insan manusia berperan untuk mewujudkan kesejahteraan sosial dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.   Demikian halnya dengan sebuah perusahaan,  dalam sebuah program implementasi tanggung jawab sosial,  dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR). Kajian CSR telah menjadi lahan industri baru yang diindikasikan oleh munculnya berbagai institusi yang menyediakan layanan yang berkaitan dengan isu-isu CSR. Di Indonesia misalnya CFCD (Corporate Forum for Community Development), IBL (Indonesian Bussiness Links). Sementara untuk skala global adalah BSR, UN Global Compact, WBCSD, CSR Asian Forum dan institusi lainnya. Kebanyakan dari institusi-intitusi tersebut disponsori oleh perusahaan-perusahaan besar.</p>
<p>Istilah CSR semakin ekstensif digunakan oleh berbagai kalangan akademisi, aktivis sosial (LSM) dan terutama dari kalangan bisnis (sektor privat). Istilah ini bergerak menjadi trend bisnis terutama korporasi besar dan transnasional. Bahkan, CSR telah diregulasikan di Indonesia. Ini merupakan  terobosan yang berani sebab isu CSR di lingkup internasional masih dalam perdebatan. Perdebatan ini antara mereka yang  yang lebih mengedepankan pendekatan moral dan mereka yang menghendaki kewajiban.</p>
<p>Dilihat dari sisi makro-historis, sikap-sikap ini merupakan tindakan reaktif terhadap gelombang demokratisasi dan meningkatnya tuntutan agar perusahaan menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai HAM serta melestarikan lingkungan dalam melakukan aktivitasnya. Di sisi lain, reputasi dan legitimasi/ lisensi sosial adalah dua dari beberapa manfaat strategis yang diperoleh perusahaan  karena menurut  Adam Smith, entitas perusahaan melakukan CSR jelas didorong oleh profit oriented. Profit tersebut tidak hanya hanya diukur dari sektor finansial semata, tetapi dapat diterjemahkan ke dalam sektor keuangan, lingkungan, dan sosial.  Oleh karena itu cakupan CSR seharusnya menyentuh komunitas, pekerja dan keluarga, konsumen, dan pemasok (Moir,2000 ; WBCSD).  CSR kepada komunitas  oleh berbagai kalangan adalah CD (<em>Community Development</em>). Dalam bidang sosial ke komunitas, perusahaan sering melakukannya dengan bentuk donasi sosial (<em>charity</em>) seperti sumbangan kepada korban bencana, bantuan beasiswa, bantuan pembangunan infrastruktur fisik.</p>
<p>Dengan komitmen perusahaan menyediakan dana dan terkadang membentuk departemen khusus yang menangani community development, maka pertanyaan sekaligus tantangan terbesar selanjutnya adalah “bagaimana aktivitas CSR dapat mewujudkan community development?”. Hal ini didasarkan peertimbangan bahwa CD lebih merupakan pendekatan strategi dari pada sebuah program.</p>
<p>Dari sudut pandang aspek <em>sustainable self-help</em> (kemandirian yang berkelanjutan), pembangunan adalah sebagai proses yang merdeka menuju individu yang merdeka ; development as freedom. Kemerdekaan bukan hanya berfungsi sebagai tujuan, tetapi juga sarana. Pendapat lain juga menyatakan bahwa visi pembangunan adalah membebaskan diri dari sikap menghamba dan memperbanyak pilihan (Todaro, 2000). Pola CSR yang karitatif (memberikan layanan) dan paternalistik tidak akan mampu mengakomodasi paradigma seperti ini karena pola karitatif tidak melibatkan proses yang partisipatif dan mencerahkan komunitas. Pola karitatif hanya melihat komunitas sebagai pihak yang membutuhkan bantuan. Permasalahannya adalah bantuan ini sering tidak melibatkan perubahan struktural yang mendasar yang dibutuhkan komunitas untuk memerdekakan diri dari ketertinggalan. Dengan mengabaikan proses yang partisipatif maka visi mulia CSR sebagai pembangunan sulit untuk direalisasikan.</p>
<p>Dari pola perusahaan dalam melaksanakan CSR kepada komunitas. Pola sekedar memberikan donasi sosial atau membentuk kegiatan ekonomi bagi lingkungan di sekitar perusahaan tidaklah cukup. Sudah sewajarnya perusahaan meninggalkan program dan kebijakan CSR yang sekedar memberikan layanan sosial yang paternalistis. Layanan paternalistis, walaupun diakui terkadang berguna dalam jangka pendek, pada akhirnya cenderung menimbulkan sikap ketergantungan. Perlu dilakukan pembangunan kapasitas bagi komunitas sehingga diharapkan masyarakat dapat mencari, menciptakan dan memanfaatkan peluang yang ada saat ini dan masa depan.</p>
<p>Institusi sosial memiliki dua arti. Pertama yaitu pengertiannya sebagai sebuah organisasi. Kedua, pengertiannya sebagai seperangkat aturan formal maupun informal yang mengarahkan perilaku seseorang. Keberadaan institusi akan sangat berpengaruh dalam menyediakan alternatif tindakan anggota komunitas. Institusi juga menyediakan sumberdaya (dana, keahlian, jaringan, komitmen) yang dibutuhkan untuk mencapai pembangunan komunitas. Dengan peranan yang sedemikian besar itu, keberlanjutan institusi yang menopang terciptanya pembangunan komunitas penting untuk diciptakan dan dipertahankan. Institusi inilah yang menjembatani perbedaan nilai, karakter, kepentingan antara perusahaan, komunitas dan pemerintah. Guncangnya institusi ini akan mengguncang pula hubungan di antara ketiganya. Sehingga aspek <em>sustainable institutional</em> perlu diperhatikan dalam sebuah CSR.</p>
<p>Dalam aspek komunitas yang bukan tunggal dan terdapat dinamika yang terstruktur. Aspek ini terstratifikasi atas berbagai kelas dan golongan, kepentingan. Semuanya saling kait mengkait membentuk dinamika yang khas. Semua ini akan mempengaruhi program dan kebijakan sosial perusahaan. Perusahaan dalam berhubungan dengan komunitas terkadang mengalami bias elit. Perilaku sosial perusahaan sangat dipengaruhi oleh atribut kekuasan dan kepentingan. Tidak mengherankan bila kemudian perusahaan lebih intens berhubungan dengan kelas elit dibandingkan non-elit. Permasalahannya adalah bukanlah pembangunan komunitas yang akan diperoleh melainkan pertentangan anggota komunitas. Tanpa mekanisme yang jelas dan mempertimbangkan aspek keadilan di dalam komunitas, maka CSR justru dapat menjadi bumerang bagi eksistensi perusahaan. Perusahaan kehilangan legitimasi/ lisensi sosialnya. Bantuan atau program yang tidak mempertimbangkan aspek lokalitas akan memproduksi konflik  antar anggota komunitas, komunitas dengan komunitas, serta komunitas dengan perusahaan.</p>
<p>Dalam hal ini, transaksi antara eksternalitas negatif yang ditimbulkan perusahaan dan manfaat yang diperoleh oleh komunitas memainkan peranan penting. Jika eksternalitas negatif tersebut ditanggung oleh komunitas, maka sudah seharusnya manfaat dipetik oleh komunitas dalam porsi yang sama. Kalau ini tidak terjadi maka aspek keadilan sosial akan terlukai. Ini akan merangsang tumbuh suburnya deprivasi sosial. Pada proses selanjutnya, cukup diperlukan pemicu akan terjadinya konflik terbuka antara perusahaan dan masyarakat. Jika skala konflik membesar, tidak menutup kemungkinan konflik akan melibatkan pemerintah sehingga konflik akan berlangsung meluas dan mengangkangi peran dan manfaat dari CSR itu sendiri.<br />
CSR, seharusnya merupakan tanggung tanggungjawab komunitas untuk mengankat taraf hidup bangsa. CSR juga dapat menjadi perekat atau penghancur eksistensi komunitas. Hancurnya komunitas menyebabkan meningkatnya kerawanan sosial seperti meningkatnya tindakan kriminalitas. Membangun kembali komunitas yang telah luluh lantak dihancurkan oleh kapitalisme brutal adalah bentuk-bentuk kriminal dan menyalahi Hak Asasi Manusia. Perusahaan dapat dijadikan tersangka dalam sebuah peradilan hukum.</p>
<p>Konflik terbuka antara komunitas masyarakat yang mendukung dan yang menolak sebuah usaha pertambangan, dalam beberapa kasus mereka yang mendukung  mendapat manfaat ekonomis yang lebih banyak dibandingkan mereka yang menolak.  Logika yang berjalan adalah jika ekternalitas negatif itu harus ditanggung oleh komunitas maka mengapa manfaat hanya untuk individu. Telah terjadi kesenjangan transaksi di sini. Kesenjangan itu diproduksi oleh struktur sosial politik yang ada.  Sikap Kediktatoran baik itu oknum komunitas, oknum pemerintah, ataupun oknum-oknum lainnya yang dalam waktu pelaksanaannya tak mampu memberikan hikmah pembelajaran kepada anggota  komunitas untuk lebih bertanggungjawab dan peduli terhadap kampungnya, lingkungannya, dan tatanan sosial yang ada.</p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://karstaceh.com/entrance/terkait-csr-di-lhoknga' addthis:title='Terkait CSR di Lhoknga '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karstaceh.com/entrance/terkait-csr-di-lhoknga/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peranan Speleologi Dalam Fenomena Karst *</title>
		<link>http://karstaceh.com/entrance/perananan-ilmu-speleologi-dalam-penyelidikan-fenomena-karst-dan-konservasi-sumber-daya-air</link>
		<comments>http://karstaceh.com/entrance/perananan-ilmu-speleologi-dalam-penyelidikan-fenomena-karst-dan-konservasi-sumber-daya-air#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 04:11:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrance]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karstaceh.com/?p=411</guid>
		<description><![CDATA[Seminar Peduli Lingkungan Hidup 2010, Banda Aceh 3 Juni 2010 PENDAHULUAN Latar Belakang Daerah karst di Aceh seperti kawasan Mata Ie Kecamatan Darul Imarah dan Kawasan Naga Umbang Kecamatan Lhok Nga memang menunjukkan daerah kering kerontang. Hal ini diyakini merupakan salah satu alasan mengapa kawasan ini dianggap sebelah mata dan tidak layak untuk dilestarikan. Banyak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seminar Peduli Lingkungan Hidup 2010, Banda Aceh 3 Juni 2010</p>
<p><span id="more-411"></span></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2010/06/Slide9.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-440 aligncenter" title="Slide9" src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2010/06/Slide9-150x150.jpg" alt="" width="159" height="159" /></a><strong> </strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong>Latar Belakang</strong><br />
Daerah karst di Aceh seperti kawasan Mata Ie Kecamatan Darul Imarah dan Kawasan Naga Umbang Kecamatan Lhok Nga memang menunjukkan daerah kering kerontang. Hal ini diyakini merupakan salah satu alasan mengapa kawasan ini dianggap sebelah mata dan tidak layak untuk dilestarikan. Banyak pihak juga menganggap kawasan ini merupakan kawasan bahan baku semen atau galian c saja. Padahal kawasan yang diartikan sebagai kawasan batu gamping yang telah mengalami karstifikasi ini bernilai strategis yang tinggi pada kehidupan manusia. Salah satu nilai strategis kawasan karst tersebut adalah sumber air di masa depan.</p>
<p>Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral-Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan, sejak tahun 1995 telah melakukan kegiatan pengeboran air tanah dalam rangka penyediaan air bersih untuk masyarakat di pedesaan dan daerah sulit air bersih. Kebanyakan lokasi-lokasi tersebut terletak di daerah karst, seperti Gunung Kidul, Wonogiri, Pacitan, Tulung Agung, Tuban, Pulau Lombok dan Pulau Timor. Pemerintah Kabupaten Wonogiri pernah bekerja sama dengan ahli karst dan speleologi untuk mencari dan memanfaatkan air karst sebagai usaha untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia.</p>
<p>Pendekatan ilmu-ilmu tersebut diterapkan untuk meyelidiki permukaan daerah karst (eksokarst) dan di bawah permukaan daerah karst (endokarst) yang bertujuan untuk memanfaatkan dan konservasi air daerah karst. Geologi sebagai penopang ilmu karstologi diharapkan dapat menyimpulkan faktor utama timbulnya suatu kawasan karst yaitu melalui proses pelarutan batuan. Speleologi memiliki peranan dimana pelarutan ini akan menyebabkan timbulnya ruangan-ruangan di bawah tanah yang dikenal sebagai gua atau sistim perguaan.</p>
<p>Beberapa inisiasi kerja sama telah dilakukan untuk menelusuri secara fisik lebih dari 150 gua, mendata 250 sinkhole, 372 danau karst, dan pelacakan air karst dengan melibatkan ahli karstologi dan speleologi seperti TC Atkins, AC Walthem, PL Smart, H Frederich, AJ Eavis. Sampai saat ini masyarakat kawasan Gunung Sewu dilaporkan sangat tergantung dengan air pada kawasan Karst Gunung sewu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Ketergantungan ini mengharuskan masyarakat kawasan untuk mempertahankan keberadaan Karst Gunung sewu. Berdasarkan permasalahan tersebut, tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi kepada pihak-pihat terkait mengenai nilai penting kawasan karst pada kebutuhan hidup manusia dan penerapan ilmu-ilmu yang mendukung pelacakan air dalam rangka memenuhi ketersediaan air bagi masyarakat di masa depan.</p>
<p><strong>DISKUSI</strong><br />
<strong>Hidrologi Kawasan Karst</strong><br />
Kondisi air tanah pada batuan karst sangat rumit dan unik dan tidak bisa disamakan dengan kondisi air tanah pada batuan antar butir atau celahan. Pada suatu kawasan karst, batu gamping karst pada umumnya bertindak sebagai akuifer utama yang dialasi oleh batuan kedap air, sehingga semua hydrolic event seperti imbuhan, keluaran, dan aliran air tanah akan berlangsung pada batu gamping karst tersebut dengan karakter yang khas. Keunikan hidrologi kawasan karst ini sebenarnya dapat dipahami dengan mengetahui beberapa tipe sumber air karst di daratan, adapun tipe sumber air karst tersebut adalah:</p>
<p>1.    Gravity fed spring (Free flow spring)<br />
Biasa didefinisikan sebagai bentuk yang terlihat sebagai sungai yang keluar dari gua atau celah. Ada dua bentuk dari gravity fed spring yaitu resurgence dan exurgence. Apabila sungai tersebut merupakan munculnya kembali aliran sungai permukaan yang dibagian hulunya telah menghilang dan keluar melalui celah atau gua disebut dengan resurgence atau exogenous spring. Sedangkan suatu gravity fed spring yang disebut dengan exurgence, bila sebagian besar atau seluruh airnya berasal dari tetesan air perkolasi dan kondensasi internal karst itu sendiri. Nama lain untuk exurgence adalah karst waterspring.</p>
<p>2.    Flood overflow spring<br />
Bentuk ini didefinisikan sebagai sumber air sewaktu hujan. Kawasan ini merupakan variasi tipe I yang airnya mengalir keluar hanya pada saat hujan lebat. Lorong bawahnya dicirikan dengan tidak dapat menampung air surplus, dan tidak ditemukan aliran air vadosa pada lorong atas gua.</p>
<p>3.    Vauclusian Spring (Spring rising under hydrostatic pressure)<br />
Biasa disebut dengan sumber air artesis. Air kawasan ini muncul keluar dari reservoir air yang biasanya besar. Lorong yang dilalui air ini biasanya curam. Air pada kawasan ini lorongnya berbentuk silindris, berdinding batu gamping, dan air yang keluar dapat terlihat melalui lapisan alluvium atau pasir yang menutupi lorong di bagian atasnya. Tipe ini sering dijumpai di daerah tropik dimana banyak vegetasi dan alluviumnya.</p>
<p>4.    Intermittent Spring (Periodic spring)<br />
Bentuk ini biasa disebut dengan sumber air periodik. Sumber air ini timbul karena adanya lorong-lorong irreguler dan sifon-sifon di balik sumber air. Sumber air tipe ini kadang-kadang hanya akan mengeluarkan air secara periodik bila debit airnya cukup besar, sewaktu turun hujan. Pada debit air yang kecil, air dapat mengalir seperti biasa secara terus menerus.</p>
<p>5.    Estavelles<br />
Bentuk ini biasanya ada di daerah alluivial yang dialiri masuk oleh sungai pada waktu hujan lebat. Bentuk ini dapat berubah menjadi sumber air menyerupai tipe II sehingga air yang keluar lebih cepat daripada air yang masuk. Ciri utamanya dapat dilihat dengan adanya Swallow holes yang saling berganti dengan swallow holes lainnya menjadi sumber air, terutama yang terdapat di polje.</p>
<p><strong>Pelacakan dan Analisis Air Kawasan Karst</strong><br />
Pemahaman perilaku air tanah pada suatu kawasan karst, terutama mengenai keterdapatan, penyebaran, dan pengaliran air tanah, merupakan dasar pertimbangan bila akan dilakukan perubahan pemanfaatan lahan di daerah karst. Hal ini dapat memperkecil dampak negatif yang akan timbul terhadap lingkungan terutama pada kondisi air tanah. Kondisi air tanah ini banyak dipengaruhi oleh kegiatan penambangan batu gamping untuk semen, perubahan daerah resapan, pengambilan air tanah, dan penurapan mata air.  Untuk meminimalkan kerugian ini hendaknya penentuan dan pemanfaatan suatu kawasan dikaji dengan baik dan memikirkan kepentingan kebutuhan hidup yang sifatnya trans generasi. Sumber-sumber air karst sudah secara rutin dianalisis di beberapa negara maju. Analisis yang dilakukan secara umum adalah pH, warna, kekeruhan, bahan organis yang terkandung di dalamnya, suhu, dan bahan non kalsium di dalamnya.</p>
<p>Setelah mengetahui hidrologi karst seperti mengetahui dimana ada sumber-sumber air, baik di musim kering maupun di musim hujan, dapatlah kita melakukan usaha pelacakan air karst untuk mengungkap pola drainase karst kawasan karst tersebut. Pelacakan air (water tracing) itu dapat dilakukan dengan pelacakan air yang memakai zat warna, penyelidikan susunan kimiawi air, perubahan fisik dari volume dan suhu, dan pelacakan dengan menggunakan isotop radioaktif. Pelacakan ini dilakukan mulai dari tempat air mengalir masuk (inlet) sampai air mengalir keluar (outlet). Metode palacakan air dengan zat warna ialah metode yang paling tua dan masih sering digunakan.</p>
<p>Persayaratan yang dibutuhkan untuk bahan pewarna pelacak air itu antara lain: harus mudah larut, baik dalam keadaan asam maupun basa, tidak boleh terabrsorsi oleh kalsium karbonat, tidak bersifat racun baik bagi manusia maupun binatang, tidak berbau, pasti dapat ditemukan kembali, dapat dilihat pada konsentrasi yang rendah, tidak menyebabkan tanah atau lumpur berkoagulasi, murah dan mudah diperoleh.</p>
<p>Bahan yang paling sering digunakan adalah fluorescein yang merupakan bahan organis yang berfluoresensi kehijau-hijaun bila terkena cahaya dalam larutan, zat warna ini dapat dideteksi pada laruatan 1: 40 juta, bahkan dalam keadaaan pengenceran 1:100 juta. Hingga kini zat uranin (natrium fluorescein) masih banyak digunakan. Pemakaian jenis pelacak ini sering juga dikombinasikan dengan activated charcoal. Kombinasi ini meningkatkan efektivitas pelacakannya untuk pengenceran yang jauh lebih besar masih dapat ditrasir.</p>
<p>Di Amerika Serikat dan Rusia digunakan radioactive tracers. Bahan jenis ini yang biasa digunakan ialah Tritium (H3) yang terikat pada oksigen membentuk air berat yang radioaktif. Namun, penggunaannya masih belum banyak dilakukan karena dikhawatirkan dapat mengkontaminasi sumber-sumber air minum. Bahan lain yang juga sering digunakan adalah Rhodamine B yang merupakan zat warna organis yang juga dapat dikombinasikan dengan activated charcoal. Jenis rhodamine yang sering digunakan adalah Pyranine. Pyranine ini berbentuk bubuk kristal dan dikenal sebagai arylsulfonates yang larut dalam air dan bersifat hidrofilik, dan merupakan pH-indicator.</p>
<p>Metode lainnya adalah menggunakan spora dari Lycopodium clavatum. Spora ini dapat bergerak hampir secepat air. Kecepatan gerak spora ini lebih cepat daripada pergerakan fluorescein dan Rhodamine B. Diameternya sekitar 30 mikron. Kerugian dari metode ini yaitu sporanya amat kecil hingga dapat difiltrasi oleh tanah, harganya empat kali fluorescein dan dibutuhkan banyak waktu untuk mempersiapkan, koleksi, dan analisisnya harus dilakukan di laboratorium.</p>
<p><strong>KESIMPULAN</strong><br />
Kawasan karst bernilai strategis yang tinggi pada ketersediaan air di masa depan. Pemahaman hidrologi kawasan karst merupakan dasar pertimbangan bila akan dilakukan perubahan pemanfaatan lahan di daerah karst. Hal ini dapat memperkecil dampak negatif yang akan timbul terhadap lingkungan terutama pada kondisi air tanah. Setelah mengetahui hidrologi karst baik di musim kering maupun di musim hujan, dapatlah kita melakukan usaha pelacakan air karst untuk mengungkap polanya untuk memanfaatkan air karst secara baik dan benar. Pelacakan air yang biasa dilakukan adalah dengan pelacakan air yang memakai fluorescein (zat warna), activated charcoal, bahan radioaktif seperti Tritium (H3), Rhodamine WT, Pyranine, dan spora Lycopodium clavatum. Bahan-bahan pelacak air ini mempunyai kelebihan dan kekurangan baik dari biaya, preparasi, dan juga analisisnya.</p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<ol>
<li>Anonymous, Zona Kawasan Karst Kabupaten Wonogiri, Kerjasama antara Bappeda Kab. Wonogiri dan Fak. Geografi UGM, 2002</li>
<li>Hanang Saniodra, Nilai Strategis Kawasan Karst di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Publikasi Khusus    Nomor 25, Juni 2001.</li>
<li>Hendri Setiadi, Upaya perlindungan air tanah karst untuk lokasi rencana penambangan batu gamping, Departemen pertambangan dan energi Direktorat jendral Geologi dan Sumber Daya mineral, Direktorat Geologi Tata lingkungan, Bandung 1999.</li>
<li>Hendri Poloc dkk, Flydrogeology of Selected Karstt region, International Association of hydrogeologists, Volume 13, 1992.</li>
<li>Mijatovic, B.F., Hydrogeology of Dinaric Karstt, International Association of hydrogeologists, Volume 4, 1984.</li>
<li>Djaendi, Potensi Air Tanah Dan Geowisata Kawasan Karst, Workshop Nasional Kawasan Karst-Wonogiri. Direktorat Tata Lingkungan Geologi Dan Kawasan Pertambangan Direktorat Jenderal Geologi Dan Sumber Daya Mineral Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral, 2004.</li>
<li>Hill, AC. Cave Minerals. National Speleological Society, 1976.</li>
<li>Jennings, JN. Karst. The MIT Press, 1971.</li>
<li>Ko, RKT. Geohidrologi Karst, Denudasi Karst, Konservasi Karst. Koleksi pribadi, 2000.</li>
<li>Moore GW, Nicholas G, dan Health DC et. al. Speleology, 1964.</li>
<li>Nasution, AI.  Karst dan Air di Masa Depan. www. karstaceh.com. Published in Entrance. April 29th, 2010</li>
<li>Sweeting, MM. Karst Landforms. Columbia University Press New York, 1973.</li>
<li>Walthem AC et.al. Gunung Sewu Cave Survey, 1982.</li>
</ol>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://karstaceh.com/entrance/perananan-ilmu-speleologi-dalam-penyelidikan-fenomena-karst-dan-konservasi-sumber-daya-air' addthis:title='Peranan Speleologi Dalam Fenomena Karst * '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karstaceh.com/entrance/perananan-ilmu-speleologi-dalam-penyelidikan-fenomena-karst-dan-konservasi-sumber-daya-air/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karst dan Air di Masa Depan</title>
		<link>http://karstaceh.com/entrance/karst-sumber-air-masa-depan</link>
		<comments>http://karstaceh.com/entrance/karst-sumber-air-masa-depan#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Apr 2010 09:21:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrance]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karstaceh.com/?p=363</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abdillah Imron Nasution Pemahaman yang salah mengenai kawasan karst adalah bencana kekeringan. PENDAHULUAN Latar Belakang Kenampakan di permukaan daerah karst yang menunjukkan daerah kering kerontang khususnya di Aceh diyakini merupakan salah satu alasan mengapa kawasan ini dianggap sebelah mata dan tidak layak untuk dilestarikan. Memang, kenyataan ini sesuai dengan arti istilah kast yang berarti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Abdillah Imron Nasution</p>
<p>Pemahaman yang salah mengenai kawasan karst adalah bencana kekeringan.<span id="more-363"></span></p>
<p><strong>PENDAHULUAN</strong></p>
<p><strong>Latar Belakang</strong></p>
<p>Kenampakan di permukaan daerah karst yang menunjukkan daerah kering kerontang khususnya di Aceh diyakini merupakan salah satu alasan mengapa kawasan ini dianggap sebelah mata dan tidak layak untuk dilestarikan. Memang, kenyataan ini sesuai dengan arti istilah kast yang berarti lahan gersang dan berbatu. Banyak pihak juga menganggap kawasan ini merupakan kawasan bahan baku tambang saja. Anggapan salah tersebut semakin riskan oleh ketiadaan data yang sifatnya multisektoral dan kemiskinan masyarakat kawasan karst di Aceh. Hal ini semakin tidak layak untuk dibayangkan jika pemanasan global di rata tempat akan menghilangkan keterdapatan air yang merupakan kebutuhan fisik dan juga spiritual (berwudhu’) di Aceh.</p>
<p>Sebagai perbandingan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral dalam hal ini Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan, sejak tahun 1995 telah melakukan kegiatan pengeboran air tanah dan penurapan mata air dalam rangka penyediaan air bersih untuk masyarakat di pedesaan dan daerah sulit air bersih. Dan kebanyakan lokasi-lokasi tersebut terletak dan merupakan daerah karst, seperti di daerah Jawa Barat selatan, Gunung Kidul, Wonogiri, Pacitan, Tulungagung, Tuban, sampai ke Pulau Lombok dan Pulau Timor.</p>
<p><strong>FENOMENA KAWASAN KARST</strong></p>
<p><strong>Karst dan air di masa depan</strong></p>
<p>Dalam nilai strategisnya pada keberadaan air, kawasan karst sangatlah unik. Dikatakan unik karena kondisi air tanah pada batuan karst sangat rumit dan khas, tidak bisa disamakan dengan kondisi air tanah pada batuan antar butir atau celahan. Pada suatu kawasan karst, batu gamping karst pada umumnya bertindak sebagai akuifer utama yang dialasi oleh batuan kedap air, sehingga semua hydrolic event seperti imbuhan, keluaran, dan aliran air tanah akan berlangsung pada batu gamping karst tersebut dengan karakter yang khas.</p>
<p>Air di kawasan karst bergerak melalui sistem retakan, celahan, gua, sedangkan di kawasan bukan karst gerakan air tanah mengalir melalui pori antar butir atau celahan dengan jumlah sangat kecil. Air tanah pada kawasan karst akan membentuk aliran melalui saluran, medianya akan bersifat heterogen. Aliran air tanah akan bergerak lebih cenderung bersifat turbulen atau berputar. Dengan demikian air yang mengalir melalui lorong lorong gua dapat dianggap sebagai akuifer utama yang berbentuk sungai bawah tanah sedangkan yang mengalir melalui celah atau retakan batuan sebagai cabangnya.</p>
<p>Sebagian kecil air tanah mengalir melalui ruang antar butir atau retakan sempit dikenal sebagai air perkolasi. Air perkolasi merupakan aliran difusi yang mengalir lambat dan bertindak sebagai cadangan untuk mengimbuh pada air tanah yang ada pada akuifer utama terutama pada musim kemarau. Air perkolasi di kawasan karst bergerak dengan kecepatan beragam tergantung dan derajat karstifikasi dan jaringan sistem percelahan yang sudah terjadi. Jaringan ini bisa terbentuk dalam daerah yang cukup luas.</p>
<p>Keunikan lainnya adalah pada saat musim penghujan kawasan ini mendapat imbuhan yang mengalir melalui saluran. Tampungan air ini dikenal sebagai akuifer epikarstik. Akuifer epikarstik menampung air hujan yang masuk melalui saluran, sehingga pada saat terjadi hujan lebat terjadi banjir. Jika akuifer ini tidak bisa menampung lagi air, maka akan terjadi arus balik yang menyebabkan terjadinya aliran turbulen. Aliran ini sangat penting di dalam proses pembentukan karst, karena aliran turbulen tersebut akan melarutkan batuan dan memperbesar lubang retakan batuan. Akibatnya kemampuan akuifer epikarstik dalam menampung dan mengalirkan air hujan menjadi semakin lebih besar. Pada musim kemarau, akuifer epikarsttik mengalirkan air tanah secara perkolasi ke dalam saluran utama. Pada musim kemarau panjang secara berangsur akuifer ini menghilang (menjadi kering). Terbentuknya kembali akuifer memerlukan waktu yang lama dan tidak cukup dengan hujan lebat yang jatuh seketika akan tetapi memerlukan waktu berbulan bulan.</p>
<p>Di bagian dalam karst terdapat akuifer yang disusun oleh jaringan celah, retakan, dan gua yang saling berhubungan. Akuifer ini membentuk subsistem tersendiri yang memiliki kecepatan aliran lambat atau cepat tergantung porositas sekunder yang ada. Keberadaan subsistem ini penting untuk menentukan sifat dan pola aliran air tanah, selain menjadi faktor penentu sistem hidrolika karst yang heterogen. Penyelidikan potensi air tanah pada batuan karst yang paling efektif dilakukan terlebih dahulu dengan mempelajari keberadaan struktur yang ada pada karst tersebut, beberapa caranya adalah analisis poto udara untuk mengetahui struktur yang ada setempat serta citra satelit untuk mengetahui kondisi regional serta dengan mempelajari gua (speleologi) yang dapat sangat membantu dalam mengetahui potensi air tanah. Dengan ilmu ini bisa mengetahui genesa gua, morfologi gua, sedimentasi dalam gua, mineral yang ada sampai ke biota yang hidup di dalam gua.</p>
<p><strong>PEMAHAMAN YANG SALAH ADALAH BENCANA KEKERINGAN</strong></p>
<p>Pemahaman perilaku air tanah pada suatu kawasan karst, terutama mengenai keterdapatan, penyebaran, dan pengaliran air tanah, merupakan dasar pertimbangan bila akan dilakukan perubahan pemanfaatan lahan di daerah karst, sehingga dapat memperkecil dampak negatif yang akan timbul terhadap lingkungan terutama pada kondisi air tanah. Upaya-upaya perlindungan terhadap air tanah pada karst terutama dan kegiatan penambangan batu gamping, perubahan daerah resapan, pengambilan air tanah, dan penurapan mata air.</p>
<p><strong>Penambangan batu gamping sebagai bahan baku semen</strong></p>
<p>Rencana penambangan pada batu gamping karst, para ahli tambang harus mengikuti batasan-batasan pertimbangan hidrogeologis dalam menilai kelayakan tambang di samping aspek teknis dan ekonomisnya, agar kelestarian pemanfaatan air tanah tetap dapat berlanjut. Meskipun kondisi hidrogeologis akan berbeda beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, namun secara umum batasan dan segi hidrogeologis untuk rencana penambangan dikemukakan seharusnya:</p>
<ol>
<li>Daerah penambangan tidak berhubungan langsung dengan proses utama terdapatnya air tanah yang   berkembang di daerah   karst, seperti menyebabkan berkurangnya imbuhan air tanah, menyebabkan menjadi kecilnya mata air,</li>
<li>Membatasi penambangan hanya berada pada zona kering diatas zona jenuh air atau di atas zona derajat distribusi   aktif porositas karst terhadap air tanah.</li>
<li>Rancang bangun penambangan dibuat sedemikian rupa sehingga tidak fungsi imbuhan air tanah tidak berkurang,</li>
<li>Tidak melakukan kegiatan penambanagn path tempat tempat yang berpotensi meresapnya air hujan dan air permukaan,   seperti lembah-lembah kering, gua-gua, atau rekahan rekahan utama.</li>
</ol>
<p><strong>Perubahan daerah resapan</strong></p>
<p>Perubahan daerah resapan air tanah di wilayah karst, terutama terjadi karena dilakukannya penambangan batu gamping yang kurang memperhatikan kondisi hidrogeologi setempat, seperti telah diuraikan di atas. Rekayasa manusia lainnya di antaranya menghilangnya hutan, mendirikan bangunan yang kedap air. Kegiatan tersebut tidak hanya berimbas pada batuan kast itu sendiri akan tetapi juga di daerah sekitarnya yang bisa menambah air di daerah karst, seperti sungai yang berhulu di daerah bukan karst.</p>
<p><strong>Pengambilan air tanah</strong></p>
<p>Seperti diuraikan di atas air tanah pada karst penyebarannya tidak merata di semua tempat akan tetapi hanya akan dijumpai pada batu gamping yang sudah mengalami pembentukkan porositas sekunder. Oleh karenanya air tanah lebih banyak dijumpai berbentuk lorong atau bagian tertentu saja di dalam suatu wilayah. Pengambilan air tanah harus ditempatkan pada daerah yang tepat, misal jangan pada daerah imbuhan air tanah, dan memperhatikan potensi yang ada.</p>
<p><strong>Penurapan mata air</strong></p>
<p>Penurapan mata air pada batuan karst memerlukan teknik tersendiri, sering terjadi mata air malah menjadi menghilang. Air tanah yang mengalir melalui celahan dan pelarutan serta akuifer yang terbentuk bersifat tidak tertekan (unconfined aquifer). Terbentuk mata air akibat adanya kontak antara akufer dengan batuan dasar atau yang bisa disebut mata air kontak (contact spring). Jika pada penurapan dilakukan peninggian tempat, maka air tanah akan mengalir ke daerah lain yang mempunyai tekanan hidrostatikanya lebih kecil, sehingga bukannya air akan bertambah, malah air akan menghilang.</p>
<p><a href="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2010/04/DSC01099.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-367" title="DSC01099" src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2010/04/DSC01099-300x168.jpg" alt="" width="300" height="168" /></a></p>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<ol>
<li>Anonymous, Zona Kawasan Karst Kabupaten Wonogiri, Kerjasama antara Bappeda Kab. Wonogiri dan Fak. Geografi UGM,   2002</li>
<li>Hanang Saniodra, Nilai Strategis Kawasan Karst di Indonesia, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Publikasi   Khusus Nomor 25, Juni 2001.</li>
<li>Hendri Setiadi, Upaya perlindungan air tanah karst untuk lokasi rencana penambangan batu gamping, Departemen   pertambangan dan energi Direktorat jendral Geologi dan Sumber Daya mineral, Direktorat Geologi Tata lingkungan,   Bandung 1999.</li>
<li>Hendri Poloc dkk, Flydrogeology of Selected Karstt region, International Association of hydrogeologists, Volume   13, 1992.</li>
<li>Mijatovic, B.F., Hydrogeology of Dinaric Karstt, International Association of hydrogeologists, Volume 4, 1984.</li>
<li>Djaendi, Potensi Air Tanah Dan Geowisata Kawasan Karst, Workshop Nasional Kawasan Karst-Wonogiri. Direktorat Tata   Lingkungan Geologi Dan Kawasan Pertambangan Direktorat Jenderal Geologi Dan Sumber Daya Mineral Departemen Energi   Dan Sumber Daya Mineral, 2004.</li>
</ol>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://karstaceh.com/entrance/karst-sumber-air-masa-depan' addthis:title='Karst dan Air di Masa Depan '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karstaceh.com/entrance/karst-sumber-air-masa-depan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reklamasi Kawasan Karst</title>
		<link>http://karstaceh.com/entrance/reklamasi-kawasan-karst</link>
		<comments>http://karstaceh.com/entrance/reklamasi-kawasan-karst#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Nov 2009 15:24:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrance]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karstaceh.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abdillah Imron Nasution Reklamasi kawasan karst pasca tambang seharusnya sudah diperkirakan dalam sebuah studi kelayakan . Ringkasan Reklamasi untuk kawasan karst pasca tambang diketahui dapat menghabiskan biaya yang sangat mahal. Biaya untuk melaksanakan program paska tambang ini harus sudah diperkirakan dalam sebuah studi kelayakan yang dibuat secara transparan, partisipatif dan holistic. Reklamasi lahan bekas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Abdillah Imron Nasution<br />
Reklamasi kawasan karst pasca tambang seharusnya sudah diperkirakan dalam sebuah studi kelayakan .<span id="more-314"></span></p>
<p><strong>Ringkasan</strong><br />
Reklamasi untuk kawasan karst pasca tambang diketahui dapat menghabiskan biaya yang sangat mahal. Biaya untuk melaksanakan program paska tambang ini harus sudah diperkirakan dalam sebuah studi kelayakan yang dibuat secara transparan, partisipatif dan holistic. Reklamasi lahan bekas tambang terutama diarahkan pada prinsip-prinsip lingkungan hidup yang sesuai dengan karakteristik kawasan bekas tambang yang diperuntukkan pengelolaannya menjadi penggerak pembangunan di daerah terimbas paling besar serta kemampuannya memberi efek ganda yang besar baik untuk Pemerintah Daerah dan tentu saja untuk masyarakat. Prinsip yang menjadi perhatian dalam rencana reklamasi lahan paska tambang adalah prinsip lingkungan, safety procedure, dan aspek sosial kemasyarakatan. Penting untuk diperhatikan juga adalah sebelum melakukan reklamasi lahan paska tambang perlu dilakukan audit lingkungan terhadap perusahaan bersangkutan untuk membangun transparansi, obyektivitas, adanya keakuratan informasi, dan rencana tindak lanjut dari rekomendasi yang didapat selama audit lingkungan agar  usaha Audit lingkungan yang telah dilakukan tidak menjadi sia-sia.</p>
<p><strong>Kata kunci</strong>: reklamasi lahan karst paska tambang, audit lingkungan</p>
<p><strong>Pendahuluan</strong><br />
Dalam rangka tujuan terciptanya pembangunan yang berkelanjutan dan agar usaha tambang tidak meninggalkan dampak lingkungan yang tidak baik pada masa paska tambang, maka sejak awal harus sudah direncanakan program paska tambang yang menyangkut berbagai aspek, antara lain: program lingkungan, keselamatan hidup, pengamanan sisa bahan galian dan program lain seperti sosial-tenaga kerja, penanganan aset dan sebagainya. Program paska tambang ini adalah merupakan program awal yang dapat segera diimplementasikan pada bekas kawasan tambang yang telah ditinggalkan. seperti yang terdapat di Kawasan Lhok Nga yaitu bekas Quarry 2 PT Semen Andalas Indoensia (PT. SAI) .</p>
<p><img src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/11/dsc01258az.jpg" alt="" /></p>
<p>Tidak dipungkiri bahwa penambangan berpotensi menyebabkan gangguan terhadap lingkungan, termasuk fungsi kawasan karst. Padahal, reklamasi dan relandscapping untuk kawasan karst pasca tambang diketahui dapat menghabiskan biaya yang sangat mahal. Biaya untuk melaksanakan program paska tambang ini harus sudah diperkirakan dalam sebuah studi kelayakan. Di Korea Selatan reklamasi kawasan karst pasca tambang menghabiskan dana hingga miliaran rupiah. Cina dan India menerapkan deposit senilai $1 juta US dan ditentukan oleh suatu Peraturan Daerah dan mencantumkan dokumen reklamasi yang termaktub lengkap di dalam dokumen AMDAL yang rinci pula.</p>
<p>Pasca penambangan kawasan karst, top soil dipastikan sudah lenyap, sehingga setiap usaha penanaman kembali kawasan karst pasca tambang dibutuhkan puluhan sampai ratusan ribu ton tanah subur, yang harus didatangkan dari lokasi lain untuk dilapiskan ke atas hamparan batu gamping yang tidak dapat ditumbuhi apa-apa. Itu sebabnya di negara maju, penanam modal untuk usaha pertambangan di kawasan karst wajib menyimpan uang deposit dalam jumlah sangat besar untuk menata kembali (relandscapping) kawasan karst pasca tambang.</p>
<p><strong>Reklamasi di Indonesia</strong><br />
Di Indonesia, reklamasi lahan ini diatur oleh Pengaturan Rencana Penutupan Tambang dan Energi  No 5 Tahun 1977 yang kemudian direvisi menjadi Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi Nomor 1211, K Tahun 1995. Dari keputusan ini, diharapkan bahwa reklamasi lahan bekas tambang terutama diarahkan pada prinsip-prinsip lingkungan hidup yang sesuai dengan karakteristik kawasan bekas tambang yang diperuntukkan pengelolaannya menjadi penggerak pembangunan di daerah terimbas paling besar serta kemampuannya memberi efek ganda yang besar baik untuk Pemerintah Daerah dan tentu saja untuk masyarakat.</p>
<p>Saat ini, belum ada rencana dan usaha reklamasi serta relandscapping lahan pasca tambang di Quarry 2 pada bekas penambangan batu gamping di Kawasan Karst Lhok Nga ini. Dengan kata lain, reklamasi lahan paska tambang ini layak untuk dipertanyakan kapan akan dilakukan. Apatah lagi, kawasan ini belum dinyatakan ditutup oleh manajemen PT SAI. Ini tentu saja dapat mengancam keselamatan orang-orang yang berkunjung ke kawasan ini, terutama kawasan ini menarik minat wisatawan local dan asing untuk menikmati keindahan geologi kawasan karst, Pantai Lhok Nga, dan wisata tsunami. Dari aspek sosial, terdapat beberapa klaim masyarakat terhadap kepemilikan beberapa areal di kawasan bekas tambang, ini dapat memicu konflik antar warga dan merosotnya kepercayaan pada representative gampong/ wilayah. Aspek-aspek ini harus segera diperhatikan oleh PT SAI dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk memulai dan menjalankan mekanisme studi kelayakan yang jelas, partisipatif, dan holistik untuk menyikapi reklamasi lahan paska tambang kawasan ini.</p>
<p>Prinsip-prinsip lingkungan hidup yang diharapkan dapat diterapkan dalam penutupan dan reklamasi lahan bekas tambang ini mencakup 1). Pengendalian kualitas air permukaan, air bawah tanah, dan udara yang sesuai baku mutu lingkungan, 2). Stabilitas dan keamanan timbunan batuan penutup dan lahan bekas tambang serta struktur batuan, 3). Perlindungan keanekaragaman hayati, serta 4). Pemanfaatan lahan bekas tambang sesuai dengan peruntukannya. Prinsip ini nantinya dapat menjadi kerangka acuan pada proses penutupan lahan bekas tambang dan keselamatan kerja (K3-safety procedure) pada awal penutupan tambang oleh manajemen PT SAI dan meminimalkan konflik antar masyarakat.</p>
<p>Poin utama sebelum melakukan memulai proses studi kelayakan adalah audit lingkungan. Salah satu kegunaan Audit lingkungan adalah untuk mengecek dan menguji kinerja program lingkungan dari suatu organisasi/ manajemen pabrik secara berkala. Pengujian secara berkala ini, akan memperkuat penerapan dokumen penting di proses AMDAL, yaitu RKL (Rencana Pengelolaan Lingkungan) dan RPL (Rencana Pemantauan Lingkungan) suatu kegiatan. Audit lingkungan ini membantu pihak yang berwenang di bidang lingkungan, dengan memberi mereka informasi aktivitas pengelolaan lingkungan yang telah dilakukan oleh manajemen pabrik. Data base lingkungan yang tersedia, diharapkan akan mendongkrak citra perusahaan sebagai perusahaan yang bonafid dan dapat dipercaya dengan tumbuhnya kesadaran lingkungan dari masyarakat.</p>
<p>Mengingat kesalahperhitungan dalam mengelola lingkungan tidak hanya ditanggung oleh pengusaha, tetapi juga masyarakat dan pemerintah kabupaten. Audit lingkungan merupakan unsur penting yang harus dilakukan oleh PT SAI dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar. Menurut Heroepoetri, agar audit lingkungan dapat berjalan dengan efektif, setidaknya ada lima elemen penting yang harus diperhatikan. Pertama diperlukan komitmen dari perusahaan agar is transparan. Kedua, adanya auditor mandiri yang tidak mempunyai kepentingan apapun akan fasilitas yang sedang diaudit. Verifikasi prosedur dan pengukuran kinerja, merupakan dua hal berikutnya dari elemen audit lingkungan dan terakhir, harus ada mekanisme tindak lanjut dari rekomendasi yang didapat selama Audit lingkungan. Jika tidak, maka usaha Audit lingkungan yang telah dilakukan menjadi sia-sia.</p>
<p><strong>Kesimpulan</strong></p>
<ol>
<li> Reklamasi lahan paska tambang di kawasan karst memerlukan biaya yang tidak sedikit.</li>
<li> Pemerintah Kabupaten Aceh Besar segera melakukan studi kelayakan untuk reklamasi lahan   paska    tambang di Quarry 2 PT SAI secara holistic dan partisipatif.</li>
<li> Prinsip yang menjadi perhatian dalam rencana reklamasi lahan paska tambang adalah prinsip lingkungan, <em>safety procedure</em>, dan aspek sosial kemasyarakatan.</li>
<li> Sebelum melakukan reklamasi lahan paska tambang perlu dilakukan audit lingkungan terhadap perusahaan bersangkutan.</li>
</ol>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://karstaceh.com/entrance/reklamasi-kawasan-karst' addthis:title='Reklamasi Kawasan Karst '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karstaceh.com/entrance/reklamasi-kawasan-karst/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semen dari Sampah</title>
		<link>http://karstaceh.com/entrance/semen-dari-sampah</link>
		<comments>http://karstaceh.com/entrance/semen-dari-sampah#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 11:30:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrance]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karstaceh.com/?p=301</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Dedy Eka P Artikel ini merupakan pencerahan untuk pemahaman akan sampah dan keterkaitannya dengan karst sebagai sumber daya alam yang dieksploitasi untuk diambil semen sebagai bahan bakunya Jepang dan Ekosemen Jepang, sebuah negeri penuh inovasi. Mungkin sebutan itu sesuai dengan bagaimana jepang menangani masalah sampah. Setelah berhasil membuat sebuah airport berkelas internasional di Kobe [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Dedy Eka P</p>
<p>Artikel ini merupakan pencerahan untuk pemahaman akan sampah dan keterkaitannya dengan karst sebagai sumber daya alam yang dieksploitasi untuk diambil semen sebagai bahan bakunya<span id="more-301"></span></p>
<p><strong>Jepang dan Ekosemen</strong></p>
<p>Jepang, sebuah negeri penuh inovasi. Mungkin sebutan itu sesuai dengan bagaimana jepang menangani masalah sampah. Setelah berhasil membuat sebuah airport berkelas internasional di Kobe dimana yang dibuat diatas lapisan sampah, menerapkan pembuatan pupuk dari sampah di berbagai hotel di Jepang, kini Jepang telah berhasil mengubah sampah menjadi produk semen yang kemudian dinamakan dengan ekosemen.</p>
<p><strong>Ekosemen</strong><br />
Ekosemen diambil dari kata “Ekologi” dan “Semen”. Diawali penelitian di tahun 1992,  para peneliti Jepang telah meneliti kemungkinan abu hasil pembakaran sampah, endapan air kotor dijadikan sebagai bahan semen. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa abu hasil pembakaran sampah mengandung unsur yg sama dg bahan dasar semen pada umumnya. Pada tahun 1993, Proyek itu kemudian dibiayai oleh Kementrian Perdangan Internasional dan Industri Jepang. Pada tahun 2001, pabrik pertama di dunia yang mengubah sampah menjadi semen resmi beroperasi di Chiba. Pabrik tersebut mampu menghasilkan ekosemen 110,000 ton/tahunnya. Sedangkan sampah yang diubah menjadi abu yang kemudian diolah menjadi semen mencapai 62,000 ton/tahun, endapan air kotor dan residu abu industri yang diolah mencapai 28,000 ton/tahun.</p>
<p>Penggunaan Abu Insinerasi untuk semen<br />
Penduduk jepang membuang sampah baik organik maupun anorganik, sekitar 50 juta ton/tahun. Dari 50 ton/tahun tersebut yang dibakar (Proses Incineration) menjadi abu (incineration ash) sekitar 37 ton/tahun. Sedangkan abu yang dihasilkan mencapai 6 ton/tahunnya. Dari abu inilah yang kemudian dijadikan sebagai bahan dari pembuatan ekosemen. Abu ini dan endapan air kotor mengandung senyawa2 dalam pembentukan semen biasa. Yaitu, senyawa2 oksida seperti CaO, SiO2, Al2O3, dan Fe2O3. Oleh karena itu, abu insinerasi ini bisa berfungsi sebagai pengganti tanah liat yang digunakan pada pembuatan semen biasa[1]</p>
<p>Table 1. Komposisi senyawa pada ekosemen dan semen biasa (ppm)</p>
<table style="border: 1px solid #000000;" border="1" align="center">
<tbody>
<tr>
<td style="text-align: center;"></td>
<td align="center">CaO</td>
<td align="center">SiO<sub>2</sub></td>
<td align="center">Al<sub>2</sub>O<sub>3</sub></td>
<td align="center">Fe<sub>2</sub>O<sub>3</sub></td>
<td align="center">SO<sub>3</sub></td>
<td align="center">Cl</td>
</tr>
<tr>
<td align="left">Semen Biasa</td>
<td align="center">62~65</td>
<td align="center">20~25</td>
<td align="center">3~5</td>
<td align="center">3~4</td>
<td align="center">2~3</td>
<td align="center">50~100 ppm</td>
</tr>
<tr>
<td align="left">Abu Insenerasi</td>
<td align="center">12~31</td>
<td align="center">23~46</td>
<td align="center">13~29</td>
<td align="center">4~7</td>
<td align="center">1~4</td>
<td align="center">150.000 ppm</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Sedangkan kandungan CaO yang masih kurang pada abu insinerasi dapat dicukupi dengan penambahan batu kapur. Penggantian sebagian batu kapur (kandungan utamanya CaCO2) dengan abu insenarasi (kandungan utama CaO) dapat mengurangi emisi CO2 yang selama ini menjadi dilemma dalam industri semen.<br />
Dalam pembuatan ekosemen ini, chlorine dan logam berat yang terkandung pada abu insinerasi akan diekstrak menjadi artificial ore (Cu, Pb, dll) yang kemudian direcyle untuk digunakan kembali.</p>
<p><strong>Proses Pembuatan Ekosemen</strong><br />
Secara umum, produksi semen biasa (Portland) meliputi pengeringan, penghancuran dan pencampuran batu kapur, tanah liat, quartzite dan bahan baku lainnya dan kemudian dibakar pada rotary klin.  Pada pembuatan ekosemen, secara prinsip sama dengan pembuatan semen biasa. Perbedaannya terletak pada proses pembakaran dan pengolahan limbah.</p>
<p><strong>Persiapan</strong></p>
<p>Bahan baku (abu insenerasi, endapan air kotor rumah tangga, residu abu industri) diproses terlebih dahulu, seperti pengeringan, penghancuran, dan pemisahan logam yang masih terkandung pada bahan baku.</p>
<p><strong>Pengeringan dan Penghancuran</strong></p>
<p>setelah dikeringkan, bahan baku tersebut kemudian dihancurkan pada Raw grinding/drying mills bersamaan dengan batu kapur .</p>
<p><strong>Pencampuran</strong></p>
<p>Setelah dikeringkan dan dihancurkan,k emudian dimasukkan ke dalam Homogenizing Tank bersamaan dg fly ash (abu yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga batu bara) dan blast furnace slag (Limbah yang dihasilkan industri besi). Dua Homoginezing tank ini dimaksudkan untuk mencampuran semua secara merata. Sehingga bisa menghasilkan komposisi yang diinginkan</p>
<p><strong>Pembakaran</strong></p>
<p>Berbeda dengan produksi semen biasa dimana dibakar pada suhu 900?, pada proses pembuatan ekosemen bahan baku dimasukkan ke dalam rotary klin dan dibakar pada suhu diatas 1350?. Pada proses ini, dioksin dan senyawa berbahaya lainnya yang terkandung pada abu insenerasi  akan diurai menjadi air, gas klor sehingga aman bagi lingkungan. Gas yang keluar dari rotary klin kemudian didinginkan secara cepat hingga suhu 200? untuk mencegah terbentuknya dioksin kembali. Pada proses ini pula logam berat yg masih terkandung dipisahkan dan dikumpulkan ke dalam bag filter sebagai debu yang masih mengandung klor. Debu ini kemudian dialirkan ke Heavy Metal Recovery Process. Pada proses ini,klor yang masih terkandung akan dihilangkan dan menghasilkan sebuah articial ore seperti tembaga dan timbal yang kemurniannya mencapai 35 % atau lebih.</p>
<p>Pada proses pembakaran ini akan dihasilkan clinker (intermediate stage pada industri semen) yang kemudian dikirim ke clinker tank.</p>
<p><strong>Penghancuran Produk</strong></p>
<p>gypsum kemudian ditambahkan bersama clinker dan campuran tersebut dihancurkan  pada finish mills yang kemudian akan menghasilkan produk ekosemen.</p>
<p><strong>Kendala</strong><br />
Salah satu kendala utama pada pengembangan ekosemen ini adalah proses produksinya yang masih mahal bila dibandingkan dengan produksi semen biasa. Hal ini dikarenakan proses pemisahan klor pada ekosemen yang memakan banyak proses sehingga membuat biaya produksi lebih mahal. Klor ini sendiri diakibatkan plastik vinil yang ikut tercampur pada sampah organik. Sehingga pada pembuatan abu insenarasi, palstik vinil ikut terurai menjadi klor. Klor ini sendiri sangat berpengaruh pada penurunan kekuatan konkrit ekosemen bila tidak dipisahkan. Sehingga pemisahan plastik dari sampah organic secara seksama menjadi kunci utama pada produksi ekosemen ini.</p>
<p><strong>Kualitas Ekosemen</strong></p>
<p>Hingga saat ini ada dua macam tipe ekosemen (berdasarkan penambahan alkali dan kandungan klor) yaitu tipe biasa dan Tipe Rapid Hardening. Ekosemen tipe biasa mempunyai kualitas sama baiknya dengan semen portland biasa. Tipe ekosemen ini  digunakan sebagai ready mixed concrete. Sedangkan ekosemen tipe Fast Hardening memiliki kekuatan konkrit dan pengerasan  yang lebih cepat dibanding semen portland tipe high-early strenght (lihat Fig.2). Ekosemen tipe ini digunakan pada blok arsitektur, bahan genteng, pemecah ombak, dll.  Ekosemen ini telah melewati proses JIS (Japanese Indusrial Standard).</p>
<p><strong>Manfaat Ekosemen</strong></p>
<p>Dengan adanya pengubahan sampah menjadi semen, menambah alternatif pengolahan sampah yang lebih bernilai ekonomis, dan biaya pengolahan sampah di Jepang menjadi lebih murah. Bila sebelumnya 40,000 yen/ton (pengolahan sampah konvensional) menjadi 39,000 yen/ton (pengolahan sampah hingga menjadi semen).</p>
<p>Selain itu, teknologi ekosemen sangatlah ramah akan lingkungan. Pada pembuatan ekosemen, sebagian CaO diperoleh dari abu insenerasi sehingga mengurangi penggunaan batu kapur (CaCO2), yang selama ini sumber polusi gas CO2. Tak salah, jika kemudian teknologi ekosemen mendapat penghargaan dari menteri lingkungan Jepang atas peranannya mencegah pemanasan global.<br />
Peluang di Indonesia</p>
<p>Indonesia belum bisa lepas dari masalah sampah. Mulai dari penolakan warga masyarakat sekitar TPA akibat kepulan asap dan bau yang ditimbulan pengolahan sampah saat ini hingga kejadian yang tidak pernah dilupakan, tragedi leuwih gajah yang merenggut 24 nyawa tak bersalah.</p>
<p>Sudah banyak upaya yang dilakukan, termasuk dengan mengubahnya menjadi sumber energi (metan) namun akibat kurangnya prospek dari segi ekonomi, akhirnya perkembangannya masih jalan ditempat. Dengan berhasilnya Jepang, mengolah sampah menjadi semen, tentu menjadi peluang sangat besar untuk dikembangkan di Indonesia. Di Jakarta saja sampah yang dihasilkan oleh warganya mencapai 6000 ton lebih/hari. Selain itu secara prinsip, pembuatan ekosemen hampir sama dengan pembuatan semen biasa, sehingga jika bisa dilakukan kerja sama dengan pihak industri semen, maka akan jadi kerjasama yang menguntungkan baik pihak pemerintah maupun pihak industri. Dari pihak pemerintah penanganan sampah bisa teratasi dan dari pihak industri mampu mengurangi penggunaan limestone (26 %).</p>
<p>Namun yang terpenting adalah kemauan pemerintah, khususnya pemerintah kota/daerah, untuk mengelola sampah dengan baik dan memulai untuk mencoba memisahkan sampah antara sampah organik, anorganik, botol dan kaleng menjadi kebudayaan bangsa Indonesia secara luas. Sehingga peluang pemanfaatan sampah menjadi semen atau produk yang lain bisa oleh pihak industri bisa lebih ekonomis.</p>
<p>(http://www.pmij.org/index.php/content/view/162/78/)</p>
<p><strong>Sumber</strong></p>
<ol>
<li>T. Shimoda, S. Yokoyama, Ecocement—a new Portland cement to solve municipal and industrial waste problems, Proc. of International Congress on Creating with Concrete, Dundee, 1999, pp. 17–30.</li>
<li> www.taiheiyo-cement.co.jp</li>
<li> www.ichiharaeco.co.jp</li>
</ol>
<p><img src="file:///C:/DOCUME~1/KASIR/LOCALS~1/Temp/moz-screenshot-4.jpg" alt="" /></p>
<p><img src="file:///C:/DOCUME~1/KASIR/LOCALS~1/Temp/moz-screenshot-2.jpg" alt="" /><img src="file:///C:/DOCUME~1/KASIR/LOCALS~1/Temp/moz-screenshot-3.jpg" alt="" /></p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://karstaceh.com/entrance/semen-dari-sampah' addthis:title='Semen dari Sampah '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karstaceh.com/entrance/semen-dari-sampah/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KAWASAN KARST NAGA UMBANG LHOK NGA</title>
		<link>http://karstaceh.com/entrance/kawasan-karst-naga-umbang-lhok-nga</link>
		<comments>http://karstaceh.com/entrance/kawasan-karst-naga-umbang-lhok-nga#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 09 May 2009 09:53:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrance]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karstaceh.com/?p=280</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abdillah Imron Nasution Dibutuhkan data multisektoral dalam membuat konsep pengelolaan Kawasan Karst di Aceh. Kawasan Karst adalah kawasan batu gamping atau dolomit yang bentukan bentang alamnya berkembang pada batuan karbonat yang mudah larut, sebagai akibat dan proses pelarutan oleh air dengan kata lain, Karst adalah bentuk bentang alam pada batuan karbonat yang ditandai oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p><strong>Oleh: Abdillah Imron Nasution</strong></p>
<p>Dibutuhkan data multisektoral dalam membuat konsep pengelolaan Kawasan Karst di Aceh.<span id="more-280"></span></p>
<p><!--[if !mso]></p>
<style>
v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
</style>
<p><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <o:shapedefaults v:ext="edit" spidmax="1036" /> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <o:shapelayout v:ext="edit"> <o:idmap v:ext="edit" data="1" /> </o:shapelayout></xml><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Kawasan Karst adalah kawasan batu gamping atau dolomit yang bentukan bentang alamnya berkembang pada batuan karbonat yang mudah larut, sebagai akibat dan proses pelarutan oleh air dengan kata lain, Karst adalah bentuk bentang alam pada batuan karbonat yang ditandai oleh fenomena khas, dolina, gua, speleotem, aliran sungai bawah tanah dan kenampakan alam lainnya yang terjadi oleh proses perekahan dan pelarutan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV">Kawasan karst merupakan salah satu sumber daya alam non-hayati yang tidak dapat diperbaharui karena pembentukannya memerlukan waktu jutaan tahun. Kawasan karst didalamnya terdapat juga sumber daya alam hayati yaitu flora dan fauna yang perlu dilindungi dan mempunyai peranan penting dalam ekosistemnya. Namun kondisi ini belum mendapat perhatian yang besar baik dari pemerintah maupun masyarakat, baik dalam hal eksplorasi, konservasi, maupun eksploitasi kawasan karst. </span><span lang="SV">Di kalangan ahli lingkungan, kawasan karst merupakan kawasan yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Hal ini disebabkan kawasan karst memiliki daya dukung yang rendah, dan sukar diperbaiki jika sudah terlanjur rusak. Salah satu kawasan karst di Nanggroe Aceh Darussalam yang memiliki nilai penting bagi manusia adalah Kawasan Karst Naga Umbang-Lhok Nga Aceh Besar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><!--[if gte vml 1]><v:group id="_x0000_s1026"  style="position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:225pt;  margin-top:156.6pt;width:207pt;height:187.5pt;z-index:-2" mce_style="position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:225pt;  margin-top:156.6pt;width:207pt;height:187.5pt;z-index:-2" coordorigin="6300,9540"  coordsize="4140,3750" wrapcoords="-78 0 -78 21514 21600 21514 21600 0 -78 0"> <v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" o:spt="75"   o:preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"> <v:stroke joinstyle="miter" /> <v:formulas> <v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0" /> <v:f eqn="sum @0 1 0" /> <v:f eqn="sum 0 0 @1" /> <v:f eqn="prod @2 1 2" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @0 0 1" /> <v:f eqn="prod @6 1 2" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="sum @8 21600 0" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @10 21600 0" /> </v:formulas> <v:path o:extrusionok="f" gradientshapeok="t" o:connecttype="rect" /> <o:lock v:ext="edit" aspectratio="t" /> </v:shapetype><v:shape id="_x0000_s1027" type="#_x0000_t75" style="position:absolute;   left:6300;top:9540;width:4140;height:3750" mce_style="position:absolute;   left:6300;top:9540;width:4140;height:3750" wrapcoords="-117 0 -117 21471 21600 21471 21600 0 -117 0"> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\05\clip_image001.jpg" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\05\clip_image001.jpg"    o:title="" /> </v:shape><v:rect id="_x0000_s1028" style="position:absolute;left:9720;top:10800;   width:321;height:354" mce_style="position:absolute;left:9720;top:10800;   width:321;height:354" filled="f" stroked="f"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1028" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1028"> <![if !mso]></p>
<table cellpadding=0 cellspacing=0 width="100%">
<tr>
<td><![endif]></p>
<div>
<p class=MsoNormal><b style="mso-bidi-font-weight:normal" mce_style="mso-bidi-font-weight:normal"><span      style="font-size:10.0pt;font-family:"Agency FB";color:white" mce_style="font-size:10.0pt;font-family:"Agency FB";color:white">2<o:p></o:p></span></b></p>
</div>
<p><![if !mso]></td>
</tr>
</table>
<p><![endif]></v:textbox> </v:rect><v:rect id="_x0000_s1029" style="position:absolute;left:9720;top:10260;   width:321;height:353" mce_style="position:absolute;left:9720;top:10260;   width:321;height:353" filled="f" stroked="f"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1029" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1029"> <![if !mso]></p>
<table cellpadding=0 cellspacing=0 width="100%">
<tr>
<td><![endif]></p>
<div>
<p class=MsoNormal><b style="mso-bidi-font-weight:normal" mce_style="mso-bidi-font-weight:normal"><span      style="font-size:10.0pt;font-family:"Agency FB"" mce_style="font-size:10.0pt;font-family:"Agency FB"">1<o:p></o:p></span></b></p>
</div>
<p><![if !mso]></td>
</tr>
</table>
<p><![endif]></v:textbox> </v:rect><v:rect id="_x0000_s1030" style="position:absolute;left:9720;top:11700;   width:321;height:353" mce_style="position:absolute;left:9720;top:11700;   width:321;height:353" filled="f" stroked="f"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1030" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1030"> <![if !mso]></p>
<table cellpadding=0 cellspacing=0 width="100%">
<tr>
<td><![endif]></p>
<div>
<p class=MsoNormal><b style="mso-bidi-font-weight:normal" mce_style="mso-bidi-font-weight:normal"><span      style="font-size:10.0pt;font-family:"Agency FB";color:white" mce_style="font-size:10.0pt;font-family:"Agency FB";color:white">3<o:p></o:p></span></b></p>
</div>
<p><![if !mso]></td>
</tr>
</table>
<p><![endif]></v:textbox> </v:rect><v:rect id="_x0000_s1031" style="position:absolute;left:9180;top:12240;   width:321;height:392;flip:y" mce_style="position:absolute;left:9180;top:12240;   width:321;height:392;flip:y" filled="f" stroked="f"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1031" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1031"> <![if !mso]></p>
<table cellpadding=0 cellspacing=0 width="100%">
<tr>
<td><![endif]></p>
<div>
<p class=MsoNormal><b style="mso-bidi-font-weight:normal" mce_style="mso-bidi-font-weight:normal"><span      style="font-size:10.0pt;font-family:"Agency FB"" mce_style="font-size:10.0pt;font-family:"Agency FB"">4<o:p></o:p></span></b></p>
</div>
<p><![if !mso]></td>
</tr>
</table>
<p><![endif]></v:textbox> </v:rect><v:rect id="_x0000_s1032" style="position:absolute;left:8640;top:12600;   width:321;height:353" mce_style="position:absolute;left:8640;top:12600;   width:321;height:353" filled="f" stroked="f"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1032" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1032"> <![if !mso]></p>
<table cellpadding=0 cellspacing=0 width="100%">
<tr>
<td><![endif]></p>
<div>
<p class=MsoNormal><b style="mso-bidi-font-weight:normal" mce_style="mso-bidi-font-weight:normal"><span      style="font-size:10.0pt;font-family:"Agency FB"" mce_style="font-size:10.0pt;font-family:"Agency FB"">5<o:p></o:p></span></b></p>
</div>
<p><![if !mso]></td>
</tr>
</table>
<p><![endif]></v:textbox> </v:rect><v:rect id="_x0000_s1033" style="position:absolute;left:7380;top:11160;   width:1680;height:353" mce_style="position:absolute;left:7380;top:11160;   width:1680;height:353" filled="f" stroked="f"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1033" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1033"> <![if !mso]></p>
<table cellpadding=0 cellspacing=0 width="100%">
<tr>
<td><![endif]></p>
<div>
<p class=MsoNormal><b style="mso-bidi-font-weight:normal" mce_style="mso-bidi-font-weight:normal"><span      style="font-size:10.0pt;font-family:"Agency FB"" mce_style="font-size:10.0pt;font-family:"Agency FB"">Desa Naga Umbang<o:p></o:p></span></b></p>
</div>
<p><![if !mso]></td>
</tr>
</table>
<p><![endif]></v:textbox> </v:rect><v:rect id="_x0000_s1034" style="position:absolute;left:6300;top:11880;   width:1221;height:353" mce_style="position:absolute;left:6300;top:11880;   width:1221;height:353" filled="f" stroked="f"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1034" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1034"> <![if !mso]></p>
<table cellpadding=0 cellspacing=0 width="100%">
<tr>
<td><![endif]></p>
<div>
<p class=MsoNormal><b style="mso-bidi-font-weight:normal" mce_style="mso-bidi-font-weight:normal"><span      style="font-size:10.0pt;font-family:"Agency FB"" mce_style="font-size:10.0pt;font-family:"Agency FB"">Krueng Raba<o:p></o:p></span></b></p>
</div>
<p><![if !mso]></td>
</tr>
</table>
<p><![endif]></v:textbox> </v:rect><w:wrap type="tight" /> </v:group><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><span lang="FR">Naga Umbang adalah nama sebuah desa yang berdiri sejak masa pemerintahan kesultanan Iskandar Muda. Nama Naga Umbang sendiri berasal dari satu peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda yang memerintahkan penggalian Krueng Raba untuk memperoleh aliran sungai baru yang menuju Pendopo kerajaan. Naga Umbang secara administratif terletak di Kecamatan Lhok Nga Kabupaten Aceh Besar Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Kawasan ini berjarak 15 km dari kota Banda Aceh dan dapat ditempuh selama 20 menit. Desa Naga Umbang berjarak 4-6 km dari laut. Kawasan ini berbatasan dengan Desa Lambaro Kueh dan Aneuk Paya di sebelah utara, dengan<span> </span>Krueng Raba di sebelah Barat dan selatan, dan daerah perbukitan di sebelah timur. </span><span lang="IN">Sebagian besar masyarakat Naga umbang bergerak di bidang pertanian, perdagangan, jasa, sektor pertanian yang masih mengandalkan sistem pertanian tadah hujan, penanaman padi hanya berlangsung pada musim penghujan untuk musim kemarau diselingi dengan tanaman palawija.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FR"> </span><a href="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/slide1.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-281" title="slide1" src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/slide1-300x251.jpg" alt="" width="270" height="220" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FR"><strong>Keterangan: Kemiringan Lereng, 1:&gt;18%, 2:&gt;12 dan &lt;18%, 3:&gt;6% dan &lt;12%, 4: &gt;2% dan &lt;6%, 5:&lt;=2%</strong><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FR">Kawasan karst Naga Umbang terbentang dengan pada ketinggian 50 hingga 1000 mdpl. Komponen geologi kawasan ini terletak pada Formasi Raba dengan batu gamping terumbu yang memiliki sifat yang baik terhadap proses kartifikasi (pelarutan batu gamping). Ketinggian bukit karst bervariasi hingga kurang dari sepuluh meter hingga mencapai 80 meter. Selain bentuk menara, bentuk kerucut juga banyak ditemukan di kawasan yang berdasarkan analisa GIS memiliki nilai kemiringan lereng (&gt;18%) yang berpotensi tinggi untuk revitalisasi air.</span><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a href="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/slide2.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-282" title="slide2" src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/slide2-300x219.jpg" alt="" width="300" height="219" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong>Potensi Gua di Naga Umbang</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="letter-spacing: 0.6pt;" lang="SV">Menurut bentuk dan fungsi gua sebagai fungsi revitalisasi air, gua dibagi dalam 3 jenis, yaitu freatic (gua air), vadose (gua basah), dan fossil (gua kering). Gua freatic dan vadose merupakan bentang alam pendukung bagi permeabilitas air. Dari 8 gua di kawasan studi terdapat dua zona dengan kerapatan kelas 1, dan 3 gua yang tidak berdiri sendiri, dan terdapat 6 gua dengan permeabilitas tertinggi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="letter-spacing: 0.6pt;" lang="SV">Dari hasil analisis GIS juga diperoleh bahwa kawasan dengan kerapatan gua yang tinggi ini memiliki jarak kurang dari 5 km dari pabrik semen. Pada analisis jarak keberadaan pabrik semen dengan permukiman juga didapatkan keberadaan pabrik semen kurang dari 5 km dari permukiman.</span><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--></p>
<p><!--[if !mso]></p>
<style>
v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
</style>
<p><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <o:shapedefaults v:ext="edit" spidmax="1027" /> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <o:shapelayout v:ext="edit"> <o:idmap v:ext="edit" data="1" /> </o:shapelayout></xml><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a href="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/slide3.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-283" title="slide3" src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/slide3-300x239.jpg" alt="" width="193" height="137" /></a></p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><strong><span style="letter-spacing: 0.75pt;" lang="FR">Keterangan: Kerapatan Gua Kelas I di Naga Umbang</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="letter-spacing: 0.75pt;" lang="FR">Komponen keanekaragaman hayati dibagi dalam beberapa kriteria, yaitu: biospeleologi, vegetasi, dan fauna. </span><span style="letter-spacing: 0.6pt;" lang="FR">Di salah satu gua ditemukan sejenis ngengat di zona peralihan yang motif sayapnya menyerupai burung hantu. Jenis ini kami nyatakan sebagai jenis endemis di Naga Umbang. </span></p>
<p><span style="letter-spacing: 0.6pt;" lang="FR"> </span></p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p>Selanjutnya ditemukan lima ratusan kelelawar penyerbuk buah yang habitatnya di pohon-pohon yang dulu merupakan hutan dengan kerapatan vegetasi rendah, saat ini akan tergusur oleh aktivitas galian C yang hanya berjarak 10 meter dari tempat ia bertempat tinggal. Menurut data BPS untuk tahun 2005, banyaknya durian Kecamatan Lhok Nga tersisa 15 batang pohon dengan produksi buah durian sebesar nol kwintal.</p>
<p><!--[if !mso]></p>
<style>
v\:* {behavior:url(#default#VML);}
o\:* {behavior:url(#default#VML);}
w\:* {behavior:url(#default#VML);}
.shape {behavior:url(#default#VML);}
</style>
<p><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--></p>
<p><!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
	mso-para-margin:0cm;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <o:shapedefaults v:ext="edit" spidmax="1039" /> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <o:shapelayout v:ext="edit"> <o:idmap v:ext="edit" data="1" /> </o:shapelayout></xml><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a href="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/presentation11.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-290" title="presentation11" src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/presentation11-300x191.jpg" alt="" width="206" height="131" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="letter-spacing: 0.6pt;" lang="FR">Penurunan ini rupanya diwarisi sejak dari tahun 2000 dimana terdapat 6125 batang pohon durian namun mengalami penurunan di tahun 2004-2003 sebanyak 3125 batang<span> </span>durian. Belum lagi potensi biologi kelelawar di dalam delapan gua yang ada dimana teridentifikasi sebagai mammalia jenis <em>Megaderma sp</em> yang berpotensi sebagai insektisida alami, dan guanonya yang mengandung fosfat yang tinggi.</span><span style="letter-spacing: 0.6pt;" lang="IN"> Analisa komposisi tana</span><span style="letter-spacing: 0.6pt;" lang="IN">h di kawasan Naga Umbang menunjukkan angka kandungan fosfat yang sangat tinggi. ini merupakan pote</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="letter-spacing: 0.6pt;" lang="IN">nsi besar untuk perkembangan pertanian masyarakat Naga Umbang dan sekitarnya. Bandingkan dengan data BPS tahun 2001 yang menyebutkan bahwa Indonesia mengeluarkan devisa sebesar 9 trilyun lebih untuk mengimpor kebutuhan fosfat untuk pupuk pertanian. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="letter-spacing: 0.75pt;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><!--[if gte vml 1]><v:group id="_x0000_s1029"  style="position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:-9pt;margin-top:3.6pt;  width:189pt;height:214.35pt;z-index:-3" mce_style="position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:-9pt;margin-top:3.6pt;  width:189pt;height:214.35pt;z-index:-3" coordorigin="1800,2880" coordsize="3780,4287"  wrapcoords="-86 0 -86 21524 20400 21524 20400 0 -86 0"> <v:shapetype id="_x0000_t75" coordsize="21600,21600" o:spt="75"   o:preferrelative="t" path="m@4@5l@4@11@9@11@9@5xe" filled="f" stroked="f"> <v:stroke joinstyle="miter" /> <v:formulas> <v:f eqn="if lineDrawn pixelLineWidth 0" /> <v:f eqn="sum @0 1 0" /> <v:f eqn="sum 0 0 @1" /> <v:f eqn="prod @2 1 2" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="prod @3 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @0 0 1" /> <v:f eqn="prod @6 1 2" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelWidth" /> <v:f eqn="sum @8 21600 0" /> <v:f eqn="prod @7 21600 pixelHeight" /> <v:f eqn="sum @10 21600 0" /> </v:formulas> <v:path o:extrusionok="f" gradientshapeok="t" o:connecttype="rect" /> <o:lock v:ext="edit" aspectratio="t" /> </v:shapetype><v:shape id="_x0000_s1030" type="#_x0000_t75" style="position:absolute;   left:1800;top:2880;width:3552;height:4287" mce_style="position:absolute;   left:1800;top:2880;width:3552;height:4287"> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\19\clip_image001.jpg" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\19\clip_image001.jpg"    o:title="" cropbottom="7851f" /> </v:shape><v:group id="_x0000_s1031" style="position:absolute;left:2115;top:3416;   width:3465;height:3342" mce_style="position:absolute;left:2115;top:3416;   width:3465;height:3342" coordorigin="2115,3416" coordsize="3465,3342"> <v:rect id="_x0000_s1032" style="position:absolute;left:4320;top:5242;    width:1103;height:761" mce_style="position:absolute;left:4320;top:5242;    width:1103;height:761" filled="f" stroked="f"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1032" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1032"> <![if !mso]></p>
<table cellpadding=0 cellspacing=0 width="100%">
<tr>
<td><![endif]></p>
<div>
<p class=MsoNormal><b><span style="font-size:9.0pt;font-family:Tahoma" mce_style="font-size:9.0pt;font-family:Tahoma">Simpang       <o:p></o:p></span></b></p>
<p class=MsoNormal><b><span style="font-size:9.0pt;font-family:Tahoma" mce_style="font-size:9.0pt;font-family:Tahoma">Tiga<o:p></o:p></span></b></p>
</div>
<p><![if !mso]></td>
</tr>
</table>
<p><![endif]></v:textbox> </v:rect><v:rect id="_x0000_s1033" style="position:absolute;left:4478;top:4178;    width:1102;height:609" mce_style="position:absolute;left:4478;top:4178;    width:1102;height:609" filled="f" stroked="f"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1033" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1033"> <![if !mso]></p>
<table cellpadding=0 cellspacing=0 width="100%">
<tr>
<td><![endif]></p>
<div>
<p class=MsoNormal><b><span style="font-size:10.0pt;font-family:Tahoma" mce_style="font-size:10.0pt;font-family:Tahoma">Darul       <o:p></o:p></span></b></p>
<p class=MsoNormal><b><span style="font-size:10.0pt;font-family:Tahoma" mce_style="font-size:10.0pt;font-family:Tahoma">Kamal<o:p></o:p></span></b></p>
</div>
<p><![if !mso]></td>
</tr>
</table>
<p><![endif]></v:textbox> </v:rect><v:rect id="_x0000_s1034" style="position:absolute;left:2430;top:6301;    width:1575;height:457" mce_style="position:absolute;left:2430;top:6301;    width:1575;height:457" filled="f" stroked="f"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1034" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1034"> <![if !mso]></p>
<table cellpadding=0 cellspacing=0 width="100%">
<tr>
<td><![endif]></p>
<div>
<p class=MsoNormal><b><span style="font-size:11.0pt;font-family:Tahoma" mce_style="font-size:11.0pt;font-family:Tahoma">Leupung<o:p></o:p></span></b></p>
</div>
<p><![if !mso]></td>
</tr>
</table>
<p><![endif]></v:textbox> </v:rect><v:rect id="_x0000_s1035" style="position:absolute;left:3533;top:3416;    width:1575;height:456" mce_style="position:absolute;left:3533;top:3416;    width:1575;height:456" filled="f" stroked="f"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1035" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1035"> <![if !mso]></p>
<table cellpadding=0 cellspacing=0 width="100%">
<tr>
<td><![endif]></p>
<div>
<p class=MsoNormal><b><span style="font-size:9.0pt;font-family:Tahoma" mce_style="font-size:9.0pt;font-family:Tahoma">Darul       Imarah<o:p></o:p></span></b></p>
</div>
<p><![if !mso]></td>
</tr>
</table>
<p><![endif]></v:textbox> </v:rect><v:rect id="_x0000_s1036" style="position:absolute;left:2115;top:5083;    width:1575;height:457" mce_style="position:absolute;left:2115;top:5083;    width:1575;height:457" filled="f" stroked="f"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1036" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1036"> <![if !mso]></p>
<table cellpadding=0 cellspacing=0 width="100%">
<tr>
<td><![endif]></p>
<div>
<p class=MsoNormal><b><span style="font-size:11.0pt;font-family:Tahoma" mce_style="font-size:11.0pt;font-family:Tahoma">Lhok       Nga<o:p></o:p></span></b></p>
</div>
<p><![if !mso]></td>
</tr>
</table>
<p><![endif]></v:textbox> </v:rect></v:group><w:wrap type="tight" /> </v:group><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><span style="letter-spacing: 0.6pt;" lang="IN">Analisa GIS yang dibuat dengan kompilasi daerah jelajah kelelawar </span><span style="letter-spacing: 0.6pt;" lang="IN">(45 km) menunjukkan potensi yang besar dalam memberantas serangga hama dan penyerbukan durian hingga menjelajahi empat kecamatan yang ada di Kawasan wilayah Aceh Besar, yaitu Leupung, Darul Imarah, Simpang Tiga, dan Darul Kamal.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="FR"> </span><a href="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/slide5.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-285" title="slide5" src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/slide5.jpg" alt="" width="208" height="248" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><!--[if gte vml 1]><v:rect id="_x0000_s1037"  style="position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:-187.5pt;  margin-top:104.4pt;width:180pt;height:56.85pt;z-index:-2" mce_style="position:absolute;left:0;text-align:left;margin-left:-187.5pt;  margin-top:104.4pt;width:180pt;height:56.85pt;z-index:-2" wrapcoords="0 0 21600 0 21600 21600 0 21600 0 0"  filled="f" stroked="f"> <v:textbox style="mso-next-textbox:#_x0000_s1037" mce_style="mso-next-textbox:#_x0000_s1037"> <![if !mso]></p>
<table cellpadding=0 cellspacing=0 width="100%">
<tr>
<td><![endif]></p>
<div>
<p class=MsoNormal style="text-align:justify" mce_style="text-align:justify"><b style="mso-bidi-font-weight:     normal" mce_style="mso-bidi-font-weight:     normal"><span lang=ES style="font-size:10.0pt;font-family:Tahoma;     letter-spacing:.6pt;mso-ansi-language:ES" mce_style="font-size:10.0pt;font-family:Tahoma;     letter-spacing:.6pt;mso-ansi-language:ES">Daerah jelajah Kelelawar hingga     empat kecamatan yang ada di Aceh Besar.</span></b><b style="mso-bidi-font-weight:     normal" mce_style="mso-bidi-font-weight:     normal"><span style="font-size:10.0pt" mce_style="font-size:10.0pt"><o:p></o:p></span></b></p>
</div>
<p><![if !mso]></td>
</tr>
</table>
<p><![endif]></v:textbox> <w:wrap type="tight" /> </v:rect><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><strong><span lang="IN">Keterangan: daerah jelajah Kelelawar hingga empat kecamatan di Aceh Besar</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="IN">Desa Naga Umbang yang memiliki bentangan alam karst yang memulai budidaya sarang walet gua sejak tahun 1985, dan mulai diatur pengelolaannya kepada pihak swasta oleh Pemda Kabupaten Aceh Besar sejak 1995. Gua yang dikenal d</span><span lang="IN">engan nama gua uleue atau gua ular karena bentuknya berkelok-kelok seperti ular memiliki populasi burung walet jenis Sriti <em>(Collocalia esculenta)</em> dalam jumlah ribuan dimana pada akhir 90 an mampu memproduksi sarang walet sebanyak 400kg per masa pemanenan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><!--[if gte vml 1]><v:shape id="_x0000_s1028"  type="#_x0000_t75" style="position:absolute;left:0;text-align:left;  margin-left:117pt;margin-top:15.65pt;width:135pt;height:115.8pt;z-index:-4" mce_style="position:absolute;left:0;text-align:left;  margin-left:117pt;margin-top:15.65pt;width:135pt;height:115.8pt;z-index:-4"  wrapcoords="-138 0 -138 21439 21600 21439 21600 0 -138 0"> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\19\clip_image004.jpg" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\19\clip_image004.jpg"   o:title="" cropleft="7290f" cropright="3645f" /> <w:wrap type="tight" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><!--[if gte vml 1]><v:shape  id="_x0000_s1026" type="#_x0000_t75" style="position:absolute;left:0;  text-align:left;margin-left:-171pt;margin-top:15.1pt;width:2in;height:110.45pt;  z-index:-6" mce_style="position:absolute;left:0;  text-align:left;margin-left:-171pt;margin-top:15.1pt;width:2in;height:110.45pt;  z-index:-6" wrapcoords="-138 0 -138 21420 21600 21420 21600 0 -138 0"> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\19\clip_image006.jpg" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\19\clip_image006.jpg"   o:title="" cropleft="8738f" /> <w:wrap type="tight" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><!--[if gte vml 1]><v:shape  id="_x0000_s1027" type="#_x0000_t75" style="position:absolute;left:0;  text-align:left;margin-left:-45pt;margin-top:15.65pt;width:2in;height:109.25pt;  z-index:-5" mce_style="position:absolute;left:0;  text-align:left;margin-left:-45pt;margin-top:15.65pt;width:2in;height:109.25pt;  z-index:-5" wrapcoords="-138 0 -138 21417 21600 21417 21600 0 -138 0"> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\19\clip_image008.jpg" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\19\clip_image008.jpg"   o:title="" /> <w:wrap type="tight" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><!--[if gte vml 1]><v:shape id="_x0000_s1038"  type="#_x0000_t75" style="position:absolute;left:0;text-align:left;  margin-left:9pt;margin-top:118.85pt;width:261pt;height:195.75pt;z-index:-1" mce_style="position:absolute;left:0;text-align:left;  margin-left:9pt;margin-top:118.85pt;width:261pt;height:195.75pt;z-index:-1"  wrapcoords="-38 0 -38 21550 21600 21550 21600 0 -38 0"> <v:imagedata src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\19\clip_image010.jpg" mce_src="file:///C:\DOCUME~1\ADMINI~1\LOCALS~1\Temp\msohtml1\19\clip_image010.jpg"   o:title="tokek" /> <w:wrap type="tight" /> </v:shape><![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]--><span style="color: black;">Desa Naga Umbang yang terletak di Kecamatan Lhoknga setiap tahunnya memberikan kontribusi bagi PAD Pemkab Aceh Besar melalui asset daerah mereka yaitu gua sarang walet. Pengelolaan sarang walet dilakukan setiap bulan oktober di kota Jantho, setelah melalui proses pelelangan dengan pembukaan harga 600 juta maka gua sarang walet akan dikelola oleh pemenang tender yang memberikan harga tertinggi. Bagi masyarakat local keberadaan gua sarang walet di desa Naga Umbang adalah sebagai sebuah lapangan pekerjaan, dimana pengelolaan sarang burung walet ini menyerap 24 orang tenaga kerja sebagai penjaga, dan 22 orang tenaga kerja pemanenan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="letter-spacing: 0.6pt;" lang="IN">Dari hasil inventarisasi satwa dengan metode langsung dan tidak langsung yang dilakukan, diidentifikasi 16 jenis aves, 6 mammalia, 4 reptilia, dan 6 jenis insekta. </span><span style="letter-spacing: 0.6pt;" lang="SV">Populasi vegetaasi pada Hutan primer kawasan karst Naga Umbang adalah 49 jenis dan 74 jenis pada hutan sekunder. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a href="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/slide6a.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-287" title="slide6a" src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/slide6a-300x82.jpg" alt="" width="300" height="82" /></a><a href="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/slide6.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-288" title="slide6" src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/slide6-300x223.jpg" alt="" width="110" height="81" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><a href="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/slide4.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-286" title="slide4" src="http://karstaceh.com/wp-content/uploads/2009/05/slide4-300x207.jpg" alt="" width="131" height="88" /></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span style="letter-spacing: 0.6pt;" lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"><span lang="FR">Berdasarkan hal tersebut, k</span><span lang="IN">awasan Karst Naga Umbang adalah Kawasan Karst Penting yang terdapat di Kawasan Karst Lhok Nga Aceh Besar. Sangat dibutuhkan data multi sektoral lainnya yang nantinya sangat dibutuhkan dalam membuat </span><span lang="FR">konsep pengelolaan yang dipersiapkan untuk pemanfaatan sumber daya alam yang dilakukan secara terencana, rasional, optimal, bertanggung jawab dan sesuai dengan kemampuan daya dukungnya dengan mengutamakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat serta memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup.<span> </span></span></p>
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://karstaceh.com/entrance/kawasan-karst-naga-umbang-lhok-nga' addthis:title='KAWASAN KARST NAGA UMBANG LHOK NGA '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karstaceh.com/entrance/kawasan-karst-naga-umbang-lhok-nga/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>KAWASAN KARST DAN KONSERVASI</title>
		<link>http://karstaceh.com/entrance/kawasan-karst-dan-konservasi</link>
		<comments>http://karstaceh.com/entrance/kawasan-karst-dan-konservasi#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Oct 2008 06:03:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Entrance]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karstaceh.com/?p=253</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Abdillah Imron Nasution Makalah Pendidikan dan Pelatihan Kader Konservasi Tingkat SMU se-NAD 16-20 Juni 2008 di Banda Aceh. Abstrak Fenomena eksokarst dan endokarst yang tidak terpisahkan dalam aplikasi ilmu-ilmu speleologi dan karstologi diperlukan dalam upaya menetapakan suatu pola pemanfaatan kawasan atau menetapkan kawasan konservasi yang mempunyai pengertian tidak hanya melindungi, tetapi juga bagaimana memanfaatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Abdillah Imron Nasution</p>
<p>Makalah Pendidikan dan Pelatihan Kader Konservasi Tingkat SMU se-NAD 16-20 Juni 2008 di Banda Aceh.</p>
<p><span id="more-253"></span></p>
<p><strong><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Abstrak</span></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><strong><span style="font-family: Times New Roman; font-size: small;"> </span></strong><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Fenomena eksokarst dan endokarst yang tidak terpisahkan dalam aplikasi ilmu-ilmu speleologi dan karstologi diperlukan dalam upaya menetapakan suatu pola pemanfaatan kawasan atau menetapkan kawasan konservasi yang mempunyai pengertian tidak hanya melindungi, tetapi juga bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada di wilayah tersebut agar tetap lestari fungsi-fungsinya dalam kesatuan ekosistem. Mengetahui dan menerapkan nilai kawasan karst sebagai sarana pendidikan yang didukung oleh beberapa ilmu dan aplikasi di lapangan sangat dibutuhkan dalam mewujudkan pemanfaatan sumber daya alam agar tetap dapat dinikmati secara trans generasi.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Kata Kunci: speleologi, karstologi, eksokarst, endokarst, konservasi</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><em></em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong></strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Gua dan Kawasan Karst</strong><br />
Ilmu yang mempelajari tentang lingkungan gua dan membahas berbagai aspek fisik dan biologisnya adalah speleologi yang berasal dari kata bahasa Yunani, yaitu Spelaion (Gua) dan Logos (Ilmu). Menurut ketentuan internasional, setiap kegiatan penelusuran gua harus mempunyai tujuan ilmiah dan konservasi. Sedangkan bila untuk tujuan wisata maka hanya diperkenankan pada gua-gua khusus yang telah dibuka sebagai obyek wisata dan telah dikelola secara profesional, lintas sektoral dan terpadu. Bidang ini menyangkut banyak cabang ilmiah dari bidang sains yang lain seperti biologi, geologi, kimia, meteorologi, anthropologi, arkeologi, minerologi, sedimentologi dan juga bidang ilmu yang bersifat sosial seperti ilmu ekonomi, geografi, sosiologi, sejarah, turisme bahkan mistik dan legenda. Berdasarkan tujuan ilmiah ini, speleologi dibedakan dengan aktivitas caving (penelusuran gua) yang segi kepetualangannya lebih diutamakan .</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Sejarah ilmu speleologi dimulai pada tahun 1674 oleh John Beaumont seorang ahli bedah dari Samerset Inggris. Beliau melakukan pencatatan laporan ilmiah penelusuran gua sumuran (potholing) yang pertama kali dan diakui oleh British Royal Society. Lebih se-abad setelah itu, tepatnya tahun 1866-1888, masa ini diakui sebagai lahirnya Ilmu Speleologi yang dipelopori oleh Edouard Alfred Martel (1859-1938). Martel memperkenalkan kegiatan penelusuran gua yang berisi metoda yang menggabungkan bidang ilmu riset dasar dalam eksplorasi gua sehingga dapat dilakukan suatu penelitian yang multi disipliner dan interdisipliner. Metoda tersebut diakui oleh para ahli sebagi cara yang paling tepat, konstruktif dan efisien dalam meneliti lingkungan gua. Bahkan tata cara tersebut dianggap sebagai pokok penerapan disiplin, tata tertib, etika dan moral kegiatan speleologi modern pada masa sekarang. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Gua alam hampir 90% terbentuk di dalam formasi batu gamping yang telah mengalami proses pelarutan, yang dikenal sebagai kawasan karst.  Ilmu yang mempelajari bentuk alam batu gamping yang telah mengalami proses karstifikasi itu dinamakan karstologi. Bentuk alam karst ini berbeda dengan bentuk alam batuan lainnya, karena kecuali memiliki komponen di atas permukaan tanah (eksokarst), kawasan karst juga memiliki komponen di bawah tanah (endokarst). Penelitian, studi, dan diskusi fenomena endokarst adalah ruang lingkup ilmu speleologi. Jelaslah bahwa ahli karstologi yang mencurahkan perhatian pada eksokarst, juga wajib memperhatikan endokarst. Ahli speleologi juga secara holistik (menyeluruh) wajib menekuni banyak fenomena di atas gua, karena keterkaitan erat antara komponen eksokarst dan endokarst.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Bila eksokarst terlihat sebagai bentuk alam yang berbeda dari satu kawasan karst dengan kawasan karst lainnya, yang dikenal sebagai geomorfologi karst atau topografi karst, maka endokarst yang ditekuni para ahli speleologi juga menampakkan perbedaan bentuk dan ukuran gua atau ruang bawah tanah. Tidak ada dua gua yang identik bentuk dan ukurannya. Oleh karena itu upaya memisahkan fenomena eksokarst dan endokarst sangatlah tidak tepat. Apalagi untuk menetapakan pola pemanfaatan kawasan atau menetapkan kawasan konservasi dengan memisahkan fenomena-fenomena tersebut, karena fenomena ekso dan endokarst berhubungan sangat erat sekali, saling mempengaruhi, jalin menjalin membentuk suatu jaringan tidak terpisahkan, istilah ini dikenal sebagai the intimate surface-subsurface connection.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Kawasan Karst Sebagai Sarana Pendidikan</strong> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Banyak segi ilmu dari kawasan karst sebagai sarana pendidikan. Di negara maju, speleologi dan karstologi sejak dekade enam puluhan sudah diajarkan secara resmi di beberapa ilmu biologi dan geografi. Sarana pendidikan dari penerapan beberapa ilmu ini yang paling banyak diminati adalah biospeleologi, hidrologi, dan geomorfologi karst. Peluang dan tantangan dalam mewujudkan aplikasi gua dan kawasan karst sebagai sarana pendidikan sangat menarik untuk dikaji dan diterapkan. Pengkajian dan penerapannya menjadi lebih jelas dengan terjun dan menyusuri gua dan kawasan karst secara langsung. Sangat dibutuhkan beberapa tambahan pengetahuan pendukung lain untuk mendapatkan hasil kajian dan terapan yang baik, di antaranya adalah ilmu-ilmu dasar dan lanjutan dalam penelusuran gua dan manajemen kegiatan alam bebas. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Membicarakan biospeleologi tidak dapat terlepas dari ekosistem bawah tanah, karena lingkungan kehidupan dalam gua mempunyai kekhususan yang tidak dijumpai di atas permukaan tanah. Pengetahuan biologi yang didapatkan dari kawasan yang merupakan sumber daya alam tidak terbaharukan ini sangat menarik sebagai sarana pendidikan. Beberapa pengetahuan dan ilmu mengenai proses energi di dalam gua yang terbagi ke dalam berbagai zona-zona wilayah yang berbeda sinar mataharinya, jaring-jaring kehidupan atau rantai makanan, dan aspek-aspek biologi lainnya, seperti behaviour, adaptasi, ritme biologis, dan lain sebagainya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Batuan penyusun kawasan karst adalah batuan yang mudah mengalami proses yang terjadi pada batuan yang mudah larut dalam air (karstifikasi), terutama pada batu gamping yang sudah mengalami patahan, rekahan, atau retakan diikuti dengan terjadinya pelarutan oleh air sehingga terbentuk porositas sekunder dengan bentangan alam yang khas yang disebut karst. Fenomena hidrologi yang terjadi sangat tergantung pada waktu proses karstifikasinya. Kondisi tersebut akan berperan membedakan antara kawasan karst yang satu dengan yang lainnya, yang pada akhirnya berpengaruh pada kondisi lingkungan masing-masing seperti keterdapatan air pertumbuhan pepohonan, penghunian binatang, wisata gua dan sebagainya.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Ada juga di beberapa negara mencurahkan perhatian pada spelokhronologi, yaitu ilmu menentukan umur ornamen gua (speleothem), seperti stalaktit dan stalakmit dengan metode radioisotop. Beberapa peneliti negara maju juga melakukan kajian dalam bidang perubahan iklim zaman purba (paleoklimatologi) kawasan karst dan non karst. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Kawasan Karst dan Permasalahannya</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Kawasan karst  di Nanggroe Aceh Darussalam terbagi ke dalam berberapa bagian, yaitu kawasan karst pantai barat yang terbentang di sepanjang Lhok Nga, Lhoong dan Lamno. Kawasan karst tengah yang terdapat di Aceh Tengah, Gle Rajah, dan Ulu Masen, Kawasan Karst Laweung, Kawasan Karst Aceh Timur, serta Kawasan Karst Aceh Tenggara. Sampai saat ini, data komprehensif komponen geologi dan non geologi di kawasan karst  Nanggroe Aceh Darussalam baru sebatas Kawasan karst Naga Umbang Lhok Nga. Kawasan Karst di Indonesia yang sampai saat ini masih membutuhkan studi komprehensif untuk memiliki data dan informasi yang lengkap masih dilakukan di beberapa tempat, seperti di Kawasan Karst Gunung Sewu dan Kawasan Karst Maros di Sulawesi Selatan. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Di kalangan ahli lingkungan, kawasan karst merupakan kawasan yang sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Hal ini disebabkan kawasan karst memiliki daya dukung yang rendah, dan sukar diperbaiki jika sudah terlanjur rusak. Kegiatan-kegiatan manusia yang menyebabkan terjadinya kerusakan lingkungan karst antara lain adalah kegiatan penambangan, pertanian, peternakan, penebangan hutan, pembangunan jalan dan pariwisata. Kegiatan tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan bentang alam karst, hilangnya mata air, menurunnya keanekaragaman hayati, banjir dan pencemaran air permukaan.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Kawasan ini memiliki fungsi yang beragam termasuk ekonomi, ekologi, maupun sosial budaya khususnya masyarakat yang ada di sekitar kawasan. Sebagian besar kawasan karst telah mengalami degradasi lingkungan akibat belum jelasnya status untuk kawasan itu sendiri. Permasalahan yang kerap terjadi di kawasan karst adalah persepsi dan apresiasi pemerintah dan masyarakat yang masih rendah, dan ahli karst di Indonesia yang masih sangat minim. Ahli hidrologi, arkeologi, paleontologi karst masih sangat langka di Indonesia. Pandangan ahli geologi di Indonesiapun masih cenderung menganggap kawasan karst sebagai bahan galian khususnya untuk bahan baku industri semen dan marmer. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Konservasi Kawasan Karst</strong></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Konservasi merupakan berasal dari kata conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/ save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/ save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Bila merujuk pada pengertiannya, konservasi didefinisikan dalam beberapa batasan, antara lain :<br />
</span></span></p>
<ol>
<li>
<div class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Konservasi adalah menggunakan sumber daya alam untuk memenuhi keperluan manusia dalam jumlah yang besar dalam waktu yang lama (American Dictionary).</span></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Konservasi adalah alokasi sumber daya alam antar waktu (generasi) yang optimal secara sosial (Randall, 1982).</span></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Konservasi merupakan manajemen udara, air, tanah, mineral ke organisme hidup termasuk manusia sehingga dapat dicapai kualitas kehidupan manusia yang meningkat termasuk dalam kegiatan manajemen adalah survai, penelitian, administrasi, preservasi, pendidikan, pemanfaatan dan latihan (IUCN, 1968).</span></span></div>
</li>
<li>
<div class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Konservasi adalah manajemen penggunaan biosfer oleh manusia sehingga dapat memberikan atau memenuhi keuntungan yang besar dan dapat diperbaharui untuk generasi-generasi yang akan datang (WCS, 1980).</span></span></div>
</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Secara keseluruhan dapat diartikan bahwa konservasi sumber daya alam hayati adalah pengelolaan sumber daya alam hayati yang pemanfaatannya dilakukan secara bijaksana untuk menjamin kesinambungan persediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai dan keanekaragamannya. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Untuk mewujudkan tujuan tersebut, perlu dilakukan strategi dan juga pelaksanaanya. Berdasarkan beberapa permasalahan dan kondisi kawasan karst saat ini, strategi konservasi kawasan karst antara lain:<br />
</span></span></p>
<ol>
<li class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Pelestarian fungsi kawasan termasuk pelestarian flora fauna melalui inventarisasi dan pendataan kawasan karst penting yang memuat nilai strategis endo-eksokarst.</span></span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Penetapan zonasi kawasan karst berdasarkan peruntukannya terutama kawasan karst yang penting untuk di konservasi.</span></span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Pengelolaan kawasan karst dilakukan melalui pendekatan Perda Tata Ruang yang nantinya akan dijadikan dasar pengelolaan konservasi karst.</span></span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Konservasi kawasan karst sangat baik dilakukan secara ekosistem dan memperhitungkan seluruh aspek.</span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Pada dasarnya dalam setiap pemanfaatan sumber daya alam termasuk sumber daya alam karst haruslah memperhatikan konsep pembangunan yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Dengan kata lain, mempertahankan atau melestarikan fungsi kawasan karst dalam satu kesatuan eksosistem mempunyai pengertian tidak hanya melindungi, tetapi juga bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada di wilayah karst tetap lestari fungsi-fungsinya dalam kesatuan ekosistem. </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Hal ini memberikan pengertian bahwa pemanfaatan sumber daya alam ini harus dilakukan secara ilmu, terencana, rasional, optimal, bertanggung jawab dan sesuai dengan kemampuan daya dukungnya dengan mengutamakan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat serta memperhatikan kelestarian fungsi dan keseimbangan lingkungan hidup. Dengan demikian pemanfaatan wilayah karst harus memperhatikan manusia sebagai titik sentral, pemanfaatan secara ilmu dan rasional, mengoptimalkan fungsi sosial dan lingkungan karst, berjangka panjang agar dapat dinikmati anak cucu kita dikemudian hari.</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<ol>
<li class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;"><strong>Kesimpulan<br />
</strong>Fenomena eksokarst dan endokarst yang tidak terpisahkan dan dihimpun dalam aplikasi ilmu-ilmu pendukungnya diperlukan dalam upaya menetapakan suatu pola pemanfaatan kawasan atau menetapkan kawasan konservasi.</span></span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Peluang dan tantangan dalam mewujudkan pemanfaatan sumber daya aplikasi gua dan kawasan karst sebagai sarana pendidikan sangat menarik untuk dikaji dan diterapkan. </span></span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Konservasi, termasuk konservasi kawasan karst mempunyai pengertian tidak hanya melindungi, tetapi juga bagaimana memanfaatkan sumber daya yang ada di wilayah agar tetap lestari fungsi-fungsinya dalam kesatuan ekosistem.</span></span></li>
<li class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;"><span style="font-size: small;"><span style="font-family: Times New Roman;">Mengetahui dan menerapkan nilai kawasan karst sebagai sarana pendidikan yang didukung oleh beberapa ilmu dan aplikasi di lapangan sangat dibutuhkan dalam mewujudkan pemanfaatan sumber daya alam agar tetap dapat dinikmati secara trans generasi.</span></span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-justify: inter-ideograph; margin: 0in 0in 0pt; text-align: justify;">
<div class="addthis_toolbox addthis_default_style " addthis:url='http://karstaceh.com/entrance/kawasan-karst-dan-konservasi' addthis:title='KAWASAN KARST DAN KONSERVASI '  ><a class="addthis_button_facebook_like" fb:like:layout="button_count"></a><a class="addthis_button_tweet"></a><a class="addthis_button_google_plusone" g:plusone:size="medium"></a><a class="addthis_counter addthis_pill_style"></a></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karstaceh.com/entrance/kawasan-karst-dan-konservasi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

