POTENSI KARST LAWEUNG TERANCAM PENAMBANGAN SEMEN

August 24th, 2017  |  Published in Entrance

Tidak adanya kajian komprehensif dampak penambanagn semen terhadap nilai sejarah budaya Bangsa Aceh ini merupakan kerugian yang sepatutnya tidak dapat disandingkan dengan nilai bahan tambangnya.

Keberadaan Guha Tujoh sebagai potensi wisata sekaligus cagar budaya  sangat penting sebagai jaminan atas terjaganya kawasan tersebut dari ancaman eksploitasi tambang. Nama Guha Tujoh berasal dari  terdapatnya tujuh terowongan panjang  di dalam gua yang belum diketahui seberapa panjang jarak dan lebarnya. Menurut studi Karst  Aceh, masyarakat Laweung menyimpan banyak cerita mistis untuk Guha Tujoh. Dari kisah-kisah tentang pertapaan para ulama hingga merupakan jalur perjalanan ibadah ulama dari Guha Tujoh yang dapat mencapai ke tanah suci Makkah. Potensi spiritual dan budaya Guha Tujoh yang terancam oleh tambang semen ini faktanya telah menjadi kepercayaan turun-temurun masyarakat Pidie, khususnya mereka yang telah lama tinggal dan menetap di Desa Cot Laweung, Kecamatan Muara Tiga, tempat Guha Tujoh berada.

 

Karst Aceh sangat menyayangkan bila kawasan ini  sampai hancur oleh perubahan bentang alam akibat pembangunan atau penambangan semen. Kawasan ini adalah kawasan karst yang berpotensi sebagai cagar budaya, maka 200 meter di sekitarnya tidak boleh diganggu. Itu untuk mempertahankan agar dia tetap lembab. Jadi di sekeliling gua itu harus ditanami pohon-pohon. Jangan sampai ada akses penambangan dan penebangan vegetasi di kawasan ini”

 

Saat ini, Guha Tujoh adalah salah satu dari sekian potensi alam Pidie yang membentang di kawasan Hak Guna Usaha (HGU) salah satu perusahaan semen. Di lahan seluas 9.343.700 meter persegi yang menjadi wilayah penambangan batu gamping perusahaan ini, ternyata banyak bersemayam makam syuhada. Makam-makam tersebut adalah; makam Tgk Jeureulik, Tgk Taleuk si Itam, Tgk Lhok Mon Hagu, Tgk Lhok Mon Muni, Tgk Cot si Gunci, Tgk Jambo Raya, Tgk Ara Cicem, Putro Ijo, dan beberapa terletak di kawasan pesisir, yakni makam Tgk Lueng Gajah, Tgk Malem Panyang, dan Tgk Panita. Keberadaan makam para ulama di dalam kawasan perusahaan dikhawatirkan masyarakat sekitar akan terdampak oleh aktivitas penambangan. Tidak hanya itu, dalam kawasan tersebut juga terdapat sekitar sepuluh embung yang menyimpan air untuk pertanian dan ternak warga. Tidak adanya kajian komprehensif dampak penambanagn semen terhadap nilai sejarah budaya Bangsa Aceh ini merupakan kerugian yang sepatutnya tidak dapat disandingkan dengan nilai bahan tambangnya.

Selain Guha Tujoh, ada beberapa gua lagi yang kemungkinan besar akan terdampak oleh perusahaan semen. Ada Guha Krueng, Guha Uleu, Guha Sarang, Guha Ek Seumantong, dan Guha Tok Nara. Sama halnya seperti Analisis dampak terhadap penambangan semen yang pernah ada, kajian dabn pemetaan gua di kawasan yang diberikan izin penambangan semen tidak pernah dikaji dengan komprehensif, baik dari lingkup ekso maupun endokarstnya.

Dari sekian banyak gua tersebut, beberapa di antaranya ada menjadi objek wisata yang sering dikunjungi, sisanya menjadi budidaya sarang walet yang pengelolaannya dilakukan masyarakat Gampong Kulee, dimana hasil keuntungannya salah satunya adalah pembangunan meunasah, ternak warga, meugang dan membantu fakir miskin.

Karst juga menitikberatkan, kemungkinan adanya jaringan air tanah yang membentuk hidrologi kawasan. Hingga kini, memang belum ada kajian khusus mengenai karst di kawasan tersebut. Namun jika bicara potensi hidrologi, analisis dampak lingkungan seharusnya menyertakan Water Tracing atau pelacakan aliran air.

 

Melestarikan potensi karst dan gua di Laweung ini sama pentingnya dengan nilai sejarah dan spiritual yang terdapat pada pada makam-makam ulama yang membentang di kawasan ini. “Nilai spiritual yang dimiliki  perlu terus dijaga, diturunkan ke setiap generasi kita. Penambangan semen akan membuat cerita ini perlahan dilupakan.

Dengan menjaga situs spiritual seperti Guha Tujoh, secara tidak langsung kita ikut terdorong untuk memperhatikan kembali segala aspek penting di kawasan karst yang secara administartif terletak di Kabupaten Pidie ini

Leave a Response

You must be logged in to post a comment.